
Probolinggo (beritajatim.com) – Gelang yang masih melingkar di pergelangan tangannya menjadi salah satu petunjuk untuk mengenali Sefril Ardiansah.
Tubuh atlet panjat tebing berusia 19 tahun itu tertutup abu hitam. Di tengah kepungan duka akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, benda kecil yang tetap utuh itu membantu orang-orang yang mengenalnya memastikan bahwa korban tersebut adalah Sefril.
Bagi Iwan Rosyidi, pelatih Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) KONI Kota Probolinggo, pengenalan itu menjadi akhir dari penantian yang menegangkan sekaligus awal dari kenyataan yang sulit diterima.
Atlet yang selama ini dibinanya telah meninggal dunia, ketika masa depannya di dunia olahraga masih terbuka.
Sefril menjadi salah satu korban meninggal dalam kebakaran di kawasan Bromo pada Kamis (15/10/2026). Ia diduga terjebak kepungan api ketika berupaya membantu memadamkan kebakaran.
Kepergiannya memutus rencana yang telah disusun untuk membawanya kembali berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.
“Rencananya, Sefril mau kami terjunkan di Porprov Jatim 2027 mendatang. Sebelumnya, dia sering mengikuti kejuaraan tingkat provinsi maupun nasional mewakili FPTI Kota Probolinggo,” ujar Iwan.
Bagi seorang atlet berusia 19 tahun, Porprov bukan sekadar agenda pertandingan. Ajang itu menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan, mengukur hasil latihan, dan membawa nama daerah ke arena kompetisi. Bagi Sefril, kesempatan tersebut datang bersama rekam jejak yang sudah ia bangun selama beberapa tahun terakhir.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber