
Sinergia | Madiun – Pengembangan pariwisata minat khusus di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, didorong agar tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Upaya tersebut mengemuka dalam Jambore Pariwisata Minat Khusus 2026 yang digelar di Rintisan Desa Wisata Klangon, Kecamatan Saradan, pada 14–15 Oktober 2026.
Kegiatan selama dua hari itu diikuti 50 peserta dari berbagai unsur industri pariwisata, mulai dari pengelola pendakian Gunung Pandan dan Gunung Wilis, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pengelola homestay, pelaku wellness tourism, hingga komunitas paralayang dan usaha kuliner lokal.
Jambore tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memetakan potensi, mengidentifikasi kendala, serta menyusun langkah konkret pengembangan pariwisata minat khusus yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT).
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Madiun, Puji Rahmawati, mengatakan tren pariwisata mulai bergeser dari wisata massal menuju pengalaman yang lebih autentik.
Wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga aktivitas dan pengalaman yang memberikan kesan mendalam.
“Pariwisata tidak melulu tentang sarana dan prasarana. Pariwisata yang baik adalah yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Puji Jumat ( 16/10/2026).
Menurut dia, Kabupaten Madiun perlu memperkuat pengembangan produk wisata minat khusus, seperti sport tourism dan wellness tourism, dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Konsep tersebut dinilai relevan untuk dikembangkan, terutama di kawasan Selingkar Wilis, karena dapat mengoptimalkan potensi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber