Jombang (beritajatim.com) – Gemuruh tepuk tangan memenuhi Ballroom Hotel Yusro, Minggu (18/10/2026). Di antara kibaran bendera merah putih dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Anas Burhani melangkah ke panggung dengan baju hijau berlogo partai dan sarung batik. Penampilannya sederhana, lekat dengan tradisi nahdliyin yang menjadi akar kultural partai yang kini dipimpinnya di Kabupaten Jombang.

Di hadapan sekitar seribu kader dan simpatisan, Ketua DPC PKB Jombang periode 2026–2031 itu tidak sekadar berbicara tentang konsolidasi organisasi atau target menambah kursi di DPRD. Ia membawa pesan yang lebih mendasar: politik harus menjadi jalan pengabdian, bukan semata-mata perebutan kekuasaan.

“Politik bagi kami bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi pengabdian, jalan ikhtiar kepada masyarakat,” tegasnya.

Kalimat itu menjadi benang merah kepemimpinan Anas. Di tengah kompetisi politik yang kerap bertumpu pada angka perolehan suara dan jumlah kursi, ia ingin PKB Jombang hadir lebih dekat dengan kehidupan warga. Bukan hanya ramai menjelang pemilu, melainkan terus bekerja ketika kontestasi telah usai.

Tantangan itu kini berada di pundaknya. Struktur organisasi PKB Jombang telah terbentuk hingga tingkat DPAC, ranting, badan otonom, dan lembaga partai. Namun, bagi Anas, kelengkapan struktur baru menjadi titik awal. Pekerjaan sesungguhnya adalah memastikan seluruh perangkat partai bergerak, menyapa masyarakat, mendengar persoalan mereka, dan menghadirkan manfaat yang nyata.

Ia merangkumnya dalam tema perjuangan lima tahun ke depan: “PKB Jombang Kuat Strukturnya, Nyata Kerjanya, Dirasakan Manfaatnya.”

Di balik gaya pidatonya yang sesekali diselingi humor khas santri, Anas juga menyimpan ambisi politik yang terukur. PKB Jombang membidik 16 kursi DPRD Kabupaten Jombang. Target itu menjadi bagian dari ikhtiar memperbesar kekuatan politik, sekaligus ujian bagi kepemimpinannya dalam menerjemahkan optimisme kader menjadi kepercayaan masyarakat.

Bagi Anas, keduanya tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Ambisi elektoral perlu ditopang kerja nyata, sementara pengabdian harus menjadi kebiasaan yang tidak bergantung pada datang atau perginya musim pemilu.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *