Cuaca panas yang dirasakan masyarakat tidak terlepas dari pemanasan global dan perubahan iklim. Peningkatan emisi karbon dari aktivitas manusia, seperti transportasi, industri, dan penggunaan energi berbahan bakar fosil, memperkuat efek rumah kaca.

Di sisi lain, berkurangnya tutupan hutan turut mengurangi kemampuan alam menyerap karbon dioksida (CO2).

Anjarwati Ketua Tim Kerja Pengendalian Pencemaran Tanah dan Udara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur menjelaskan, peningkatan karbon dioksida di atmosfer mengganggu keseimbangan alam dan berkontribusi terhadap kenaikan suhu bumi.

Menurut dia, karbon dioksida sebenarnya merupakan bagian alami dari atmosfer. Gas tersebut dihasilkan, antara lain, melalui proses pernapasan makhluk hidup.

Dalam kondisi seimbang, pohon menyerap CO2 melalui fotosintesis dan menyimpan karbon dalam jaringan tumbuhan.

Namun, perkembangan aktivitas manusia meningkatkan jumlah emisi yang dilepaskan ke atmosfer.

Pembakaran bahan bakar minyak pada kendaraan, penggunaan batu bara untuk menghasilkan listrik, serta kegiatan industri menjadi sejumlah sumber emisi gas rumah kaca.

“Semakin banyak CO2 yang dihasilkan, keseimbangan tadi menjadi tidak seperti dulu lagi,” kata Anjarwati dalam talkshow “Merawat Bumi Majapahit” di Radio Suara Surabaya pada Rabu (21/10/2026) pagi.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *