/data/photo/2026/10/21/6ad81d44c8530.jpg)
JOMBANG, KOMPAS.com – Peluit wasit melengking membelah keheningan malam di lapangan Kompleks Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Selasa (20/10/2026) malam.
Seketika, kobar api yang menyala terang menggelinding di tengah lapangan. Aksi saling rebut bola pun tak terelakkan, diiringi sorak-sorai riuh penonton yang memadati pinggir lapangan.
Bukan bola karet atau sintetis biasa, bola yang diperebutkan malam itu adalah buah kelapa kering yang direndam minyak tanah, lalu dibakar hingga memancarkan pijar api merah membara.
Di balik kepulan asap tipis dan pendar cahaya merah, antar-pemain saling berteriak memberi komando, meminta umpan, atau mengingatkan pergerakan kawan.
Tak tampak rasa gentar di raut wajah para santri. Padahal, yang bergulir tepat di hadapan kaki telanjang mereka adalah kobaran api nyata yang sanggup menghanguskan apa saja.
Pemandangan mendebarkan pun kerap terjadi saat penjaga gawang menangkap bola api itu dengan tangan kosong.
Meski bola membara itu dilemparkan kembali ke tengah lapangan dalam hitungan seper sekian detik. Tak satu pun keluhan rasa panas terdengar.
Mukhlis, salah satu pemain dalam pertandingan sepak bola api, mengaku bahwa dia tidak merasakan takut meski harus mengontrol dan menendang bola yang membara dengan kaki telanjang.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber