RRI.CO.ID, Malang – Kesiapsiagaan bencana perlu dibangun secara inklusif agar seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, mampu mengakses informasi peringatan dini dan melakukan evakuasi secara aman. Penguatan ini membutuhkan dukungan kelembagaan, teknologi, anggaran, serta keterlibatan masyarakat sejak tahap prabencana.
Hal tersebut disampaikan Mambaus Suud, Manajer Program dan Kemitraan Program SIAP SIAGA Jawa Timur yang akrab disapa Suud, dalam dialog Malang Menyapa di Pro 1 RRI Malang bertema “Menyiapkan Penyandang Disabilitas Tangguh Bencana”, Selasa (20/10/2026)
Suud menjelaskan, Program SIAP SIAGA merupakan kemitraan Indonesia dan Australia yang berjalan sejak 2020 untuk memperkuat penanggulangan bencana. Di Jawa Timur, pendampingan program difokuskan di lima kabupaten, yakni Kabupaten Malang, Sampang, Pacitan, Lumajang, dan Pasuruan.
Penetapan wilayah tersebut dilakukan melalui proses konsultasi dengan BPBD Jawa Timur sebagai sektor utama dalam pembangunan ketangguhan bencana. Pertimbangan lainnya meliputi keragaman karakter budaya masyarakat serta tingkat risiko bencana berdasarkan penilaian BPBD dan BNPB.
Menurut Suud, pendampingan Program SIAP SIAGA memiliki cakupan yang luas dan tidak hanya berfokus pada isu disabilitas. Dukungan juga diarahkan pada pengembangan regulasi penanggulangan bencana di tingkat provinsi, perencanaan dan penganggaran, penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana), pesantren tangguh bencana, relawan, serta mekanisme sistem kedaruratan bencana.
Meski penguatan kelembagaan dinilai telah menunjukkan perkembangan yang baik, upaya membangun ketangguhan bencana di seluruh Jawa Timur masih menghadapi tantangan. Luasnya wilayah membuat pendampingan di lima kabupaten belum dapat menjangkau seluruh kebutuhan daerah. Selain itu, dukungan anggaran dan ketersediaan peralatan masih perlu ditingkatkan.
Suud menekankan, salah satu aspek paling penting dalam kesiapsiagaan adalah sistem peringatan dini yang dapat diakses semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Informasi bahaya harus disampaikan melalui cara yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar dapat dipahami dan segera ditindaklanjuti.
“Peringatan dini menjadi aspek kesiapsiagaan yang sangat penting. Sistemnya harus bisa diakses semua orang. Ketika ada peringatan dini, masyarakat harus bisa merespons dengan cepat,” jelasnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber