BANGKALAN, SurabayaPost.id — Sebanyak 48 tim karapan sapi dijadwalkan berlaga di Stadion Karapan Sapi R.P. Moh. Noer, Skep, Bangkalan, Minggu (25/10/2026). Perlombaan ini menjadi bagian dari persiapan menuju Piala Presiden yang direncanakan berlangsung November mendatang oleh Paguyuban Kerapan Sapi se-Madura.

Di balik derap kaki sapi, debu lintasan, dan sorak-sorai penonton, karapan sapi menyimpan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar perlombaan. Tradisi khas Madura ini mengajarkan bagaimana kompetisi berlangsung tanpa harus menghilangkan persaudaraan, bagaimana kemenangan dirayakan tanpa merendahkan lawan, serta bagaimana kebanggaan dibangun melalui kerja keras dan kebersamaan.

Di tengah ketegangan politik yang kerap menguras energi bangsa, karapan sapi menawarkan pelajaran tentang demokrasi yang indah. Sebuah kompetisi tidak seharusnya membuat masyarakat terpecah, apalagi menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan demi kekuasaan.

Ketua Umum Paguyuban Kerapan Sapi se-Madura, H. Moh. Thohir, memandang karapan sapi bukan sekadar warisan budaya yang dipertontonkan di arena. Tradisi ini memiliki karakter sosial yang kuat, menyatukan pemilik sapi, joki, perawat, keluarga, dan masyarakat dalam sebuah kebanggaan bersama.

“Karapan sapi mengajarkan kepada kita bahwa persaingan tidak harus melahirkan permusuhan. Di lintasan memang ada yang menang dan ada yang kalah, tetapi setelah perlombaan selesai, kita semua tetap bersaudara. Tidak boleh karena kalah kemudian bermusuhan, tidak boleh karena menang lalu merendahkan lawan. Inilah keindahan karapan sapi yang menurut saya juga penting menjadi pelajaran dalam kehidupan berbangsa dan berpolitik,” jelas Thohir disela sela persiapan liga karapan Sapi hari ini.

Pesan tersebut relevan ketika kehidupan politik semakin sering dipenuhi pertarungan kepentingan. Demokrasi seolah-olah hanya diukur dari siapa yang berhasil merebut kekuasaan, siapa yang mampu mengalahkan lawan, dan siapa yang paling kuat mempertahankan pengaruh. Padahal, demokrasi seharusnya juga diukur dari kemampuan menghormati perbedaan, menerima hasil kompetisi, serta menjaga kepentingan masyarakat di atas kepentingan kelompok.

Karapan sapi tidak mengenal kemenangan sebagai satu-satunya ukuran kehormatan. Ada proses panjang yang melibatkan kerja kolektif, ketekunan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Ada pemilik yang merawat sapi, joki yang mempersiapkan diri, serta masyarakat yang ikut membangun suasana kompetisi. Semua memiliki peran dalam menjaga tradisi agar terus hidup.

“Kalau kita melihat karapan sapi hanya dari siapa yang menang dan siapa yang kalah, kita kehilangan makna yang sebenarnya. Di sini ada pembangunan, ada gotong royong, ada ekonomi masyarakat, ada penghormatan kepada sesama, dan ada keguyuban. Orang datang membawa kebanggaan masing-masing, tetapi mereka tetap berada dalam satu ruang kebudayaan yang sama. Menurut saya, nilai seperti inilah yang harus terus kita jaga,” beber Thohir.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *