
Kota Malang, blok-a.com – Kawasan Bunulrejo di Kecamatan Blimbing, Kota Malang, memiliki jejak sejarah panjang. Nama Bunul bahkan telah tercatat dalam peta tahun 1882, jauh sebelum wilayah tersebut resmi menjadi Kelurahan Bunulrejo pada 1987.
Sejarawan Malang, Agung H Buana, menjelaskan bahwa nama Bunul juga tercatat dalam peta tahun 1923 dan 1946. Namun, terdapat perbedaan penyebutan dan pembagian wilayah dalam peta-peta tersebut.
“Di peta tahun 1882, penyebutan Bunul itu sudah muncul. Namanya Desa Boenoel. Kemudian di tahun 1923 daerah Bunul juga sudah tertulis namanya, tapi enggak pakai desa, langsung Boenoel,” jelas Agung, Minggu (18/10/2026).
Pada peta tahun 1923, kawasan Boenoel terbagi menjadi empat wilayah, yakni Boenoel, Boenoel Wetan, Boenoel Koelon, dan Boenoel Lor. Peta tersebut juga mencantumkan nama kawasan Ngoedjil.
Agung menjelaskan, pembagian wilayah tersebut dapat ditelusuri melalui sejumlah kawasan yang dikenal masyarakat saat ini. Boenoel berada di sekitar Pasar Bunul, sedangkan Boenoel Lor mengarah ke perbatasan Sulfat.
Boenoel Koelon berada di kawasan seberang Kelurahan Bunulrejo, tepatnya di sekitar Jalan Hamid Rusdi yang berbatasan dengan Rampal. Sementara itu, Boenoel Wetan berada di sisi timur, mengarah ke kawasan Sawojajar.
Nama Boenoel juga masih tercantum dalam peta tahun 1946. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa nama Bunul telah dikenal jauh sebelum wilayahnya ditetapkan sebagai kelurahan.
Selain catatan dalam peta, sejarah Bunul juga berkaitan dengan kisah seorang tokoh bernama Bulul. Dalam cerita yang dituturkan Agung, wilayah lembah Sungai Bango dikenal rawan kriminalitas. Sejumlah warga disebut menjadi korban kejahatan hingga muncul Bulul, seorang pemuda yang dikenal karena keberanian dan kesaktiannya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber