
PAMEKASAN, RadarMadura.id – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) mengembangkan teknologi pengolahan limbah batang pisang menjadi biochar di Desa Galis, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. Teknologi tepat guna ini diharapkan dapat meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut diketuai Anna Zakiyatul Laila, S.Si., M.Si., Ph.D., dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi (DTMM), Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) ITS. Pada 25 Oktober 2026, tim pengabdi bersama mahasiswa dan Kelompok Tani SHINTA II melakukan monitoring serta evaluasi penerapan teknologi di lahan pertanian mitra.
Kegiatan monitoring dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas drum kiln atau alat pirolisis sederhana yang telah diperkenalkan kepada masyarakat. Tim juga meninjau hasil pengujian laboratorium terhadap kualitas biochar dan memeriksa kondisi tanah setelah bahan tersebut diaplikasikan.
Kelompok Tani SHINTA II di Dusun Galis Tengah menjadi mitra utama dalam program ini. Desa Galis dipilih karena memiliki limbah batang pisang yang melimpah, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal, serta menghadapi tantangan rendahnya kesuburan tanah dan kemampuan tanah menyimpan air.
Melalui program ini, limbah batang pisang diolah menggunakan proses pirolisis dengan drum kiln untuk menghasilkan biochar sebagai pembenah tanah (soil amendment). Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, biochar yang dihasilkan memiliki pH netral hingga basa, kadar air rendah, dan kandungan karbon tinggi.
Analisis menggunakan metode SEM, FTIR, dan BET juga menunjukkan struktur pori yang berkembang pada biochar tersebut. Karakteristik ini berpotensi mendukung peningkatan kapasitas tukar kation dan kemampuan tanah mempertahankan unsur hara.
Program tersebut sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi program terutama berkaitan dengan SDG 15 tentang ekosistem darat, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 2 tentang pengentasan kelaparan dan ketahanan pangan.
“Kegiatan monitoring dan evaluasi ini memastikan bahwa teknologi yang kami transfer benar-benar dapat diterima dan memberikan dampak nyata bagi mitra. Kami berharap Kelompok Tani SHINTA II dapat terus memproduksi biochar secara mandiri dan mengaplikasikannya secara berkelanjutan untuk meningkatkan hasil panen mereka,” ujar Anna Zakiyatul Laila dalam keterangannya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber