Surabaya (beritajatim.com) – Satuan Pelajar, Siswa, dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (SAPMA PP) Kota Surabaya mendorong penguatan budaya dialog dan pemikiran kritis di kalangan pemuda melalui kegiatan Kopi Cangkruk 2026. Mengusung tema Sekolah Demokrasi: Pendidikan Politik dan Kepemimpinan bagi Aktivis Mahasiswa, kegiatan ini digelar untuk memperingati hari lahir ke-38 SAPMA Pemuda Pancasila sekaligus Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.

Ketua SAPMA PP Kota Surabaya, Kevin Harlens, mengatakan Kopi Cangkruk menjadi ruang bagi pemuda untuk bertukar gagasan dan membahas persoalan masyarakat. Dia berharap aktivis muda tidak hanya menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi, tetapi juga memperkuat tradisi dialog dan argumentasi.

“Kami berharap pemuda dari seluruh OKP di Surabaya tidak hanya menyuarakan aspirasi melalui aksi di jalan, tetapi juga lewat dialog interaktif dan argumentasi yang kuat. Kemampuan itu harus dimiliki mahasiswa dan aktivis kepemudaan,” ujar Kevin.

Dia menambahkan, pemuda perlu terus meningkatkan kemampuan membaca situasi dan memahami perubahan di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, literasi menjadi bekal penting untuk menghadapi disrupsi digital.

“Melalui Kopi Cangkruk ini, kami ingin menyadarkan pemuda Surabaya agar terus belajar membaca dan memahami situasi serta kondisi, terutama dalam menghadapi disrupsi digital,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris SAPMA PP Surabaya, Rubens Jans, mengatakan organisasinya berupaya menjadi ruang bagi pemuda dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi melalui pendekatan intelektual. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah mengubah stigma negatif yang selama ini melekat pada Pemuda Pancasila.

“SAPMA sesuai namanya merupakan wadah pelajar, siswa, dan mahasiswa. Kami mengedepankan cara-cara intelektual dan berpendidikan untuk memfasilitasi pemuda menyampaikan aspirasi serta keluhan tentang Kota Surabaya,” kata Rubens.

Menurut Ruben, forum tersebut juga dimanfaatkan warga untuk menyampaikan persoalan di luar isu kepemudaan, termasuk kendala akses pendidikan. Hal itu menunjukkan bahwa ruang aspirasi yang dibangun SAPMA dapat menjangkau kebutuhan masyarakat secara lebih luas.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *