
Lamongan (beritajatim.com) – Pembangunan Embung Wono Tirto Lestari di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan air saat musim kemarau sekaligus mengurangi risiko banjir akibat limpasan air hujan.
Infrastruktur penampung air ini memiliki kapasitas tampungan efektif mencapai 95 ribu meter kubik dan diproyeksikan mendukung pengairan lahan sawah seluas 16 hektare.
Embung Wono Tirto Lestari dibangun di atas lahan Perhutani seluas sekitar 3,80 hektare. Selain menunjang kebutuhan irigasi pertanian, keberadaan embung tersebut direncanakan membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, terutama ketika pasokan air mulai berkurang pada musim kemarau.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, mengatakan pembangunan embung merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi air hujan agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Selain mengurangi risiko kekurangan air saat kemarau, keberadaan embung juga diharapkan membantu menekan limpasan air hujan yang selama ini berpotensi menyebabkan banjir di permukiman,” kata Yuhronur, Kamis (29/10/2026).
Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu menegaskan, ketersediaan infrastruktur penampung air perlu diimbangi dengan pemeliharaan yang baik dan pengaturan pemanfaatan secara tepat. Hal tersebut penting agar manfaat embung dapat dirasakan masyarakat secara merata dan tidak menimbulkan konflik dalam penggunaan air.
“Selain dipelihara dengan baik, pemanfaatannya juga harus diatur. Saya berharap masyarakat berkoordinasi dengan pihak yang membidangi sumber daya air, agar pemanfaatannya optimal dan tidak sampai terjadi perebutan air,” ujarnya.
Berdasarkan perencanaan teknis, embung tersebut diproyeksikan mampu mengairi 16 hektare lahan sawah. Dengan kebutuhan air sekitar 3.000 meter kubik per hektare setiap masa tanam, total kebutuhan air untuk pertanian diperkirakan mencapai 48 ribu meter kubik per masa tanam.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber