
SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Kebesaran sejarah Madura kembali menjadi perhatian melalui pelaksanaan Haul Raja-Raja se-Madura yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jumat (30/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menjelang peringatan Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep.
Haul yang mempertemukan sejumlah tokoh dari empat kabupaten di Pulau Madura, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan, menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang sejarah serta jasa para pemimpin terdahulu.
Madura memiliki kekayaan sejarah yang tidak terpisahkan dari perjalanan peradaban Nusantara. Berbagai kerajaan dan kepemimpinan yang pernah tumbuh di wilayah tersebut meninggalkan warisan berupa nilai perjuangan, kebijaksanaan, dan pengabdian yang terus dikenang hingga kini.
Pelaksanaan haul tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan mengenang para leluhur. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi sarana untuk mengambil hikmah dari perjalanan hidup para pendahulu, mendoakan mereka, serta menjaga nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi penerus.
Tokoh Madura asal Pamekasan, KHR Khalil Muhammad, menyampaikan bahwa inti pelaksanaan haul adalah meneladani kebaikan yang telah dilakukan para pendahulu sekaligus memanjatkan doa bagi mereka.
“Esensi haul adalah meneladani hal-hal baik yang dicetak para pendahulu kita, dan sekaligus mendoakan para beliau tersebut agar senantiasa mendapat ampunan dan syafaat dari Yang Maha Kuasa,” tuturnya.
Dalam perjalanan sejarahnya, Madura memiliki puluhan raja yang memimpin berbagai wilayah. Di Kabupaten Sumenep, nama Aria Wiraraja menjadi salah satu tokoh sentral yang memiliki peran penting dalam sejarah Madura dan Nusantara. Jejak kepemimpinan tersebut berlanjut hingga masa pemerintahan Tumenggung Prabuwinoto.
Sementara itu, wilayah Pamekasan dan Sampang juga memiliki sejumlah tokoh bersejarah, di antaranya Kiai Wonorono, Raden Adipati Pramono atau Pangeran Bonorogo, serta Panembahan Ronggosukowati.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber