
Delapan puluh satu tahun Jawa Timur layak dirayakan dengan rasa syukur sekaligus keberanian untuk melakukan refleksi. Tema Hari Jadi ke-81, “Jatim Unggul, Maju Berkelanjutan”, membawa tiga kata yang sesungguhnya mengandung tanggung jawab besar. Keunggulan harus mempunyai dasar yang nyata, kemajuan harus dirasakan masyarakat, dan keberlanjutan mengharuskan pembangunan hari ini tidak mengorbankan kesempatan generasi berikutnya.
Jawa Timur mempunyai banyak alasan untuk percaya diri. Perekonomian Jawa Timur pada triwulan II 2026 tumbuh 5,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai PDRB dalam satu triwulan telah mencapai Rp930 triliun. Investasi juga bergerak. Pada semester pertama 2026, realisasi investasi mencapai sekitar Rp72,7 triliun dengan puluhan ribu proyek investasi.
Pasar tenaga kerja menunjukkan perkembangan positif. Tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 berada pada 3,42 persen. Kemiskinan pada Maret 2026 turun menjadi 9,06 persen atau sekitar 3,71 juta penduduk. Dalam enam bulan, sekitar 92 ribu orang keluar dari kemiskinan.
Angka-angka tersebut patut diapresiasi. Namun hari jadi sebuah provinsi seharusnya menjadi kesempatan melihat apa yang belum selesai. Sebab di balik pertumbuhan 5,72 persen, masih ada 3,71 juta warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di balik penurunan pengangguran, baru sekitar 36 persen pekerja Jawa Timur yang bekerja pada kegiatan formal. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat, rasio gini justru meningkat dari 0,359 pada September 2025 menjadi 0,365 pada Maret 2026.
Artinya, tantangan Jawa Timur berikutnya semakin kompleks. Mengejar pertumbuhan tetap penting. Memastikan siapa yang menikmati pertumbuhan menjadi sama pentingnya.
Dalam beberapa tahun terakhir muncul gagasan besar menjadikan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Gagasan ini masuk akal jika melihat posisi geografis dan struktur ekonomi Jawa Timur.
Jawa Timur mempunyai pelabuhan, bandara, jalan tol, kawasan industri, basis manufaktur, pertanian, perikanan, perguruan tinggi, serta lebih dari 40 juta penduduk. Posisi Jawa Timur juga strategis sebagai penghubung aktivitas ekonomi antara Indonesia bagian barat dan timur. Tetapi keunggulan geografis adalah titik awal, bukan tujuan akhir.
Pelabuhan yang besar tidak otomatis menghasilkan biaya logistik yang murah. Jalan tol yang panjang belum tentu membuat rantai pasok efisien. Kawasan industri belum otomatis mendatangkan investasi apabila listrik, gas, air, akses pelabuhan dan perizinannya tidak tersedia tepat waktu. Karena itu, Gerbang Baru Nusantara harus diterjemahkan dari slogan geografis menjadi strategi ekonomi.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber