* Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur meluncurkan program “HIPMI Jatim Go Global” dengan menggandeng perwakilan diplomatik dan perbankan guna memperluas akses pemasaran ekspor serta pembiayaan usaha bagi 3.800 lebih anggotanya, sekaligus mendorong akselerasi UMKM daerah agar naik kelas ke skala bisnis yang lebih besar.

Surabaya (beritajatim com) — Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur mempercepat langkah ekspansi pasar internasional bagi produk anggotanya melalui program “HIPMI Jatim Go Global”. Langkah strategis ini direalisasikan dengan menjalin komunikasi intensif bersama sejumlah perwakilan negara sahabat, seperti Konsulat Jenderal (Konjen) China, Jepang, Amerika Serikat, perwakilan India, Belanda, hingga Hong Kong.

Ketua Umum BPD HIPMI Jawa Timur, Ahmad Salim Assegaf, menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan organisasi tidak sekadar berfokus pada diskusi, melainkan mendorong terjadinya transaksi bisnis nyata antara pelaku usaha dan pembeli di luar negeri.

“Kami tidak ingin terlalu banyak teori, tetapi tidak ada aksi. Karena itu, kami aktif bertemu dengan perwakilan perdagangan. Bahkan, kami meminta bantuan konjen agar bisa menghubungkan langsung anggota HIPMI dengan importir di negara tersebut,” ujar Ahmad Salim Assegaf saat bincang santai bersama wartawan di Surabaya, Jumat (6/11/2026).

Saat ini, sekitar 10 hingga 15 persen dari total 3.800 lebih anggota HIPMI Jatim telah berhasil menembus pasar internasional, didominasi oleh sektor furnitur serta makanan dan minuman (food and beverage). HIPMI Jatim juga terus memetakan potensi ekspor komoditas daerah lainnya, seperti kopi, buah-buahan, produk olahan perikanan tuna asal Pacitan, hingga beras organik dari Banyuwangi.

Salim menambahkan, hambatan utama pelaku usaha daerah berada pada aspek standardisasi, akses pemasaran, serta minimnya pemahaman prosedur ekspor. Oleh karena itu, HIPMI Jatim hadir memberikan pendampingan administrasi, edukasi mekanisme ekspor, hingga penyusunan agenda peluncuran produk anggota ke negara tujuan dalam waktu dekat.

Upaya penetrasi pasar global ini beriringan dengan target pembenahan internal organisasi untuk mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas. Pihaknya berupaya menurunkan porsi UMKM yang saat ini mendominasi 60–70 persen dari total anggota menjadi 40–50 persen melalui peningkatan skala bisnis.

“Kami tidak semata-mata bicara target ekspor. Yang lebih penting adalah bagaimana UMKM yang tergabung di HIPMI ini bisa naik kelas. Kami berharap yang 60-70 persen itu nantinya berkurang menjadi 50 persen atau 40 persen, bukan karena mereka keluar dari HIPMI, tetapi karena usahanya sudah naik kelas,” tegas Salim.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *