PAMEKASAN, KOMPAS.com – Wayang kulit Madura berkembang pesat pada abad ke-17 di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Sekitar tahun 2000, Kosala Mahinda, warga Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, mulai menggagas untuk menghidupkannya. Ia tidak sendiri, ada nama Ki Sudirman, dalang pertama setelah wayang kulit mati suri selama puluhan tahun.

“Wayang kulit Madura adalah warisan leluhur. Sejak itu kami berusaha menghidupkannya kembali,” kata Kosala, Senin (21/9/2026).

Kosala lantas menyiapkan alat-alat gamelan, wayang kulit Madura dan perlengkapan lainnya. Meski tidak mudah menghidupkan kembali kesenian yang sudah mati.

Saat itu, tidak ada satu pun generasi wayang Madura yang tersisa. Hanya rekaman wayang kulit yang dikumpulkan, dipelajari dan diperagakan.

“Ki Sudirman itu anak kandungnya salah satu dalang wayang kulit Madura. Orangtuanya diajari langsung oleh Ki Loncet. Tapi dia tidak sempat belajar dulu ke orangtuanya,” kata Kosala.

Kosala mendorong Ki Sudirman untuk mempelajarinya. Bermodal sisa rekaman kaset, bukan video dari berbagai pertunjukan, Ki Sudirman mempelajarinya.

Mulai dari jenis tembang gamelan pengiring wayang kulit Madura, hingga cara dalang menyampaikan berita menggunakan bahasa Madura.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *