:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Buntut-Kekerasan-di-SMPN-18-Malang-Disdikbud-Pasang-Badan-Dampingi-Siswa.jpg)
SURYA.co.id, MALANG – Kasus dugaan kekerasan dan intimidasi yang melibatkan Kepala SMPN 18 Kota Malang, Amrozi Hanidi, menarik perhatian serius dari pihak berwenang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, menyatakan penyesalan mendalam atas insiden tersebut sekaligus menegaskan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh, terutama dalam memulihkan kondisi mental para siswa.
“Anak-anak yang merasa dirugikan, kami bertanggung jawab pendampingan siswa yang trauma karena ternyata ini dilakukan kepala sekolah. Sekali lagi kami mohon maaf,” kata Suwarjana, Jumat (25/9/2026).
Pihak dinas bergerak cepat mendatangi lokasi untuk melakukan verifikasi dan mengumpulkan keterangan.
Dari hasil penelusuran awal, aksi intimidasi yang beredar diduga tidak hanya menyasar para murid, tetapi juga dialami oleh tenaga pengajar di sekolah tersebut.
“Ini tadi keluhan dari guru dan dari siswanya juga. Selain fisik ada verbal, kan sudah tidak benar itu,” kata Suwarjana.
Meski belum menemukan adanya bukti luka fisik pada siswa, Disdikbud Kota Malang terus mendalami laporan dugaan kekerasan fisik maupun tekanan verbal yang terjadi.
Berdasarkan penelusuran awal, ketegangan di SMPN 18 Kota Malang disinyalir dipicu oleh persoalan aturan penggunaan pakaian lurik.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber