Malang, Aktualita.co — Peristiwa Gerakan 30 September 1965 memang berpusat di Jakarta, tetapi dampaknya dengan cepat menjalar ke berbagai wilayah Indonesia. Salah satu daerah yang mengalami perubahan politik dan sosial cukup besar setelah peristiwa tersebut adalah Malang, Jawa Timur.

Dalam beberapa pekan setelah malam 30 September dan 1 Oktober 1965, situasi politik di Malang berubah tajam. Mobilisasi kelompok masyarakat mulai berlangsung, sementara aparat militer mengeluarkan berbagai perintah untuk memeriksa dan menangkap orang-orang yang dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) maupun organisasi yang dianggap dekat dengan kelompok kiri.

Sejumlah penelitian yang menggunakan arsip militer Kodam Brawijaya memperlihatkan bahwa Malang menjadi salah satu wilayah penting dalam operasi antikomunis di Jawa Timur setelah G30S.

Peneliti sejarah Grace Leksana dalam kajiannya mengenai kekerasan antikiri di Jawa Timur mencatat sebuah peristiwa penting pada 14 Oktober 1965.

Pada hari itu, kelompok pemuda keagamaan menggelar rapat umum Komando Aksi di Alun-Alun Malang. Dalam pertemuan tersebut, mereka menyatakan dukungan kepada Angkatan Darat untuk menghadapi Gerakan 30 September.

Pertemuan itu diterima oleh Kolonel Soemadi, Komandan Kopur III/83 yang berada di bawah Korem 083. Arsip yang dikaji Leksana mencatat adanya klaim pengerahan sekitar 250.000 pemuda dari 30 organisasi massa yang tergabung dalam Front Pemuda Kota Malang.

Namun, Leksana memberikan catatan bahwa angka tersebut kemungkinan dibesar-besarkan. Karena itu, jumlah itu lebih tepat dipahami sebagai angka yang tercantum dalam laporan pada masa tersebut, bukan sebagai jumlah yang telah diverifikasi secara independen.

Kodim diperintahkan bekerja sama dengan kepolisian serta unsur pemerintahan daerah dalam menjalankan pemeriksaan tersebut.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *