RRI.CO.ID, Pamekasan – Keberlangsungan industri batik tulis otentik di Kabupaten Pamekasan kini menghadapi ancaman serius dari sisi regenerasi tenaga kerja. Pelaku usaha batik tulis asal Desa Klampar, Pamekasan, Muhammad Aufal Fresky, mengungkapkan bahwa kuantitas perajin di wilayahnya terus mengalami penurunan drastis.
“Kondisi ini dipicu oleh faktor usia para perajin senior, tingginya angka beralih profesi, hingga minimnya minat generasi muda untuk menekuni seni membatik,” katanya pada RRI, Jumat 2 Oktober 2026.
Fenomena penurunan minat generasi muda tersebut dipengaruhi oleh pandangan bahwa profesi pembatik membutuhkan tingkat ketelatenan tinggi namun belum memberikan imbas ekonomi yang signifikan. Padahal dari segi kualitas, para perajin lokal yang tersisa memiliki jam terbang serta keahlian profesional yang sangat mumpuni.
“Jika tidak segera diintervensi dengan langkah konkrit, industri batik tulis dikhawatirkan akan kehilangan akar kebudayaannya secara perlahan,” ujarnya.
Menghadapi tantangan tersebut, Aufal mengoptimalkan program wisata edukasi batik dengan melibatkan 5 hingga 10 perajin lokal sebagai instruktur pelatihan. Melalui interaksi langsung antara pengunjung dan perajin, ia berharap timbul ketertarikan dari generasi muda untuk meneruskan usaha warisan ini.
“Selain itu, pengerjaan konten visual proses pembuatan batik juga rutin diunggah ke media sosial kami guna mentransfer pengetahuan budaya secara lebih luas,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa dukungan nyata dari masyarakat tidak hanya sebatas membeli produk, tetapi juga aktif berkampanye di media sosial demi menyuarakan nasib para perajin. Pemerintah dan pemangku kebijakan diharapkan memberikan perhatian khusus terhadap kesejahteraan pekerja kreatif di daerah. Kesejahteraan yang terjamin menjadi kunci utama agar para perajin tidak banting setir dan terus berkreasi melestarikan warisan budaya Indonesia.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber