
Prevalensi stunting di Jawa Timur turun cukup tajam, dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024 berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Meski belum mencapai target 14 persen pada 2024, Jawa Timur berada di peringkat kedua terbaik secara nasional.
Pada 2026, target prevalensi stunting Jawa Timur ditetapkan sebesar 13 persen. Artinya, Jawa Timur masih perlu mengejar penurunan sekitar satu poin dari angka saat ini.
Cicik Swi Antika, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, mengatakan capaian tersebut harus terus dijaga. Sebab, stunting menjadi salah satu komponen dalam indeks modal manusia, yang menjadi indikator pembangunan sumber daya manusia dalam RPJMN 2025–2029.
“Walaupun secara target kita belum tercapai, alhamdulillah Jawa Timur nomor dua terbaik di tingkat nasional,” ujar Cicik dalam Talkshow Merawat Bumi Majapahit di Radio Suara Surabaya, Selasa (6/10/2026).
Strategi Jawa Timur berfokus pada pencegahan dan percepatan penurunan stunting, dengan 11 indikator intervensi spesifik dan sensitif. Cicik menegaskan, pencegahan menjadi prioritas utama karena stunting sulit dipulihkan setelah terjadi.
“Intervensi stunting tidak bisa kembali dengan mudah, jadi upaya pencegahan itu yang lebih dimaksimalkan, dengan sasaran mulai dari remaja putri,” jelasnya.
Pada kelompok remaja putri, Dinkes Jatim menjalankan skrining anemia massal di semua sekolah dan pondok pesantren, disertai gerakan minum tablet tambah darah. “Remaja putri kita tidak boleh ada yang anemia,” tegasnya.
Sasaran berikutnya adalah ibu hamil. Mereka diminta memeriksakan kehamilan secara rutin, minimal enam kali selama masa kehamilan, serta mengonsumsi tablet tambah darah atau multiple micronutrient supplement (MMS). Ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) harus segera mendapat pemberian makanan tambahan (PMT) lokal.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber