
Blitar (beritajatim.com) – Menjalani pendidikan di lingkungan berasrama tidak selalu mudah bagi setiap siswa. Di balik akses pendidikan dan fasilitas yang disiapkan, ada tantangan lain yang tidak kalah penting: kemampuan beradaptasi secara psikologis ketika harus tinggal jauh dari keluarga.
Hal itu terjadi di Sekolah Rakyat Kota Blitar. Seorang siswa jenjang SMA asal Kota Malang memutuskan mengundurkan diri setelah mengalami homesick dan beberapa kali meminta untuk dipulangkan.
Keputusan tersebut diambil setelah pihak sekolah melakukan sejumlah upaya pendampingan untuk membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan asrama.
Kepala Sekolah Rakyat Kota Blitar, Johan Argono, mengatakan pihak sekolah tidak serta-merta menerima keputusan siswa tersebut untuk mengundurkan diri. Pendampingan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan sejumlah pihak.
Pendampingan tersebut melibatkan wali asrama, wali asuh, guru Bimbingan dan Konseling (BK), hingga komunikasi dua arah dengan keluarga. Upaya itu dilakukan untuk membantu siswa melewati proses adaptasi dan tetap mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Prosesnya panjang dan ending-nya dia tetap mengundurkan diri,” ungkap Johan, Rabu (7/10/2026).
Meski siswa tersebut mengundurkan diri, pihak Sekolah Rakyat tetap memastikan keputusan itu tidak berujung pada putus sekolah.
Johan mengatakan terdapat aturan yang mengharuskan siswa yang mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat memiliki bukti telah diterima di sekolah lain.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber