jatimnow.com – Api biru mengawali perjalanan biji belinjo menjadi emping. Setelah disangrai menggunakan pasir yang dipanaskan dengan LPG 3 kilogram, biji-biji itu ditumbuk hingga pipih oleh tangan-tangan terampil. Berikutnya, sinar matahari berperan mengeringkan kepingan emping sebelum dikemas dan dipasarkan. Di Kampung Emping Belinjo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, ketiga sumber energi tersebut berpadu menjaga roda produksi yang telah berjalan sejak 1987.

Suasana di salah satu rumah produksi milik Maimunah di Kampung Emping Belinjo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Kamis (8/10/2026). Di kampung yang relatif kecil itu, para pekerja melakukan berbagai aktivitas, mulai dari menambahkan rasa pada emping, menjemur, hingga mengemasnya. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Suasana di salah satu rumah produksi milik Maimunah di Kampung Emping Belinjo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Kamis (8/10/2026). Di kampung yang relatif kecil itu, para pekerja melakukan berbagai aktivitas, mulai dari menambahkan rasa pada emping, menjemur, hingga mengemasnya. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Suara pukulan lumpang bersahutan dari rumah-rumah warga di balik pertokoan Jalan Letjen Sutoyo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Di salah satu halaman yang lebih lapang di antara jalan-jalan sempit kampung itu, kepingan emping belinjo terhampar di bawah terik matahari. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, suhu udara mencapai 34 derajat Celsius.

Pemandangan itu menjadi bagian dari keseharian warga di kampung tersebut. Produksi camilan renyah ini tidak terpusat di satu tempat, melainkan tersebar di rumah-rumah warga. Sedikitnya enam pengepul terhubung dengan puluhan penumbuk biji belinjo yang mengerjakan pesanan dari rumah masing-masing.

Bagi warga yang menekuninya, membuat emping bukan sekadar mengolah biji belinjo, melainkan juga cara mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah.

Ida Kristiani (49), penumbuk emping dari salah satu pengepul di Kampung Emping Belinjo, melakukan aktivitas produksi di rumahnya di Koplakan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Kamis (8/10/2026). Selama 35 tahun, dia bekerja untuk pasangan (alm.) Mansyur dan Siti Munawaroh, generasi kedua di kampung itu, yang kini usahanya diteruskan oleh anak mereka, Mukti Akbar (31). Semua proses ia lakukan di rumah tanpa harus meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu dari dua orang anak. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Ida Kristiani (49), penumbuk emping dari salah satu pengepul di Kampung Emping Belinjo, melakukan aktivitas produksi di rumahnya di Koplakan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Kamis (8/10/2026). Selama 35 tahun, dia bekerja untuk pasangan (alm.) Mansyur dan Siti Munawaroh, generasi kedua di kampung itu, yang kini usahanya diteruskan oleh anak mereka, Mukti Akbar (31). Semua proses ia lakukan di rumah tanpa harus meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu dari dua orang anak. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Ida Kristiani (49), salah satunya. Selama 35 tahun, ia menekuni pekerjaan membuat emping untuk usaha keluarga almarhum Mansyur dan Siti Munawaroh. Kini, usaha yang memasuki generasi kedua di kampung tersebut diteruskan oleh putra mereka, Mukti Akbar (31).

Di rumahnya di kawasan Koplakan, Kecamatan Pare, sedikit di luar Kampung Emping Belinjo, Ida mengerjakan hampir seluruh tahapan produksi secara mandiri. Ia menyiapkan biji belinjo, menyangrainya, menumbuknya hingga pipih, lalu menjemur hasilnya. Pekerjaan itu berjalan berdampingan dengan aktivitas sehari-harinya sebagai istri dan ibu dari dua anak.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *