
damarinfo.com – Potret pendidikan madrasah di Jawa Timur menyimpan sebuah fakta fundamental: denyut layanan belajar jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) penumpu utamanya berada di tangan lembaga swasta. Bukan sekadar unggul dalam hal kuantitas fisik bangunan, sekolah swasta terbukti menjadi tempat menimba ilmu bagi mayoritas anak-anak di provinsi ini.
Berdasarkan data peserta didik MTs dan MA terkini, dari total 6.173 lembaga yang berdiri di Jawa Timur, sebanyak 5.884 unit atau 95,32 persen berstatus swasta. Sementara itu, lembaga negeri hanya berjumlah 289 unit atau 4,68 persen.
Kesenjangan angka ini berbanding lurus dengan serapan siswanya. Dari total 982.104 peserta didik yang tercatat, sebanyak 767.015 siswa atau 78,10 persen menggantungkan masa depan pendidikannya di lembaga swasta. Sebaliknya, institusi negeri hanya menampung 215.089 siswa atau 21,90 persen. Artinya, secara proporsional, hampir 8 dari setiap 10 siswa madrasah di Jawa Timur menghabiskan hari-hari belajarnya di sekolah swasta. Dominasi ini sekaligus menegaskan siapa aktor utama yang selama ini menopang pilar pendidikan Islam di tingkat regional.
Kendati sama-sama bertumpu pada sektor swasta, peta sebaran dan tingkat ketergantungan antarkabupaten/kota di Jawa Timur menunjukkan karakteristik yang beragam. Jika tolok ukurnya adalah volume absolut siswa swasta, Jember kokoh di puncak daftar.
Jember mencatatkan 51.460 siswa MTs dan MA yang mengenyam pendidikan di lembaga swasta, jauh melampaui jumlah siswa negerinya yang sebanyak 8.064 anak, dengan rasio perbandingan mencapai 6,38 banding 1. Pasuruan menempel ketat di posisi kedua dengan 51.440 siswa swasta berbanding 5.739 siswa negeri, menghasilkan rasio yang lebih tinggi di angka 8,96 banding 1.
Berikut adalah 10 kabupaten/kota dengan jumlah peserta didik MTs dan MA pada lembaga swasta terbanyak:
Angka-angka tersebut merekam dinamika menarik di lapangan. Sampang, misalnya, menjelذا [Sampang, misalnya, menjelma menjadi wilayah dengan tingkat dominasi swasta paling ekstrem di Jawa Timur; memeluk 31.179 siswa swasta sementara porsi negeri hanya tersisa 921 anak saja, menciptakan rasio jomplang hingga 33,85 banding 1. Di sisi lain, Jombang memperlihatkan lanskap yang lebih berimbang. Kendati menampung 38.275 siswa swasta yang masif, eksistensi sekolah negeri di sana juga cukup kuat dengan 23.050 siswa, sehingga rasio ketimpangannya melunak di angka 1,66 banding 1.
Variasi ini membuktikan bahwa besarnya populasi siswa swasta tidak selalu berkorelasi linier dengan tingkat dominasi tunggal. Namun, benang merahnya tetap satu: lembaga swasta adalah panggung utama tempat mayoritas pelajar madrasah tumbuh dan ditempa.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber