Pacitan (beritajatim.com) – Penyelenggaraan Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Pacitan menghadapi tantangan di awal pelaksanaan. Baru beberapa pekan mengikuti kegiatan belajar, enam siswa memilih mengundurkan diri.

Keenam siswa tersebut terdiri dari dua siswa jenjang SD dan empat siswa jenjang SMP. Kepala SD-SMP SRT 1 Pacitan, Bayu Arifyanto, mengatakan setelah adanya pengunduran diri tersebut, saat ini terdapat 21 siswa jenjang SD dan 86 siswa jenjang SMP yang masih mengikuti pendidikan di SR.

“Ada beberapa yang mengundurkan diri. Ada yang memilih sekolah di tempat lain,” kata Bayu ditulis Senin (21/9/2026).

Untuk jenjang SD, salah satu siswa mengundurkan diri karena belum siap berpisah dengan orang tua. Sementara satu siswa lainnya memilih tidak melanjutkan sekolah di SR.

Menurut Bayu, sistem pendidikan berasrama menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian siswa, khususnya usia SD, membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Anak yang baru menyelesaikan pendidikan dasar dinilai masih membutuhkan pendampingan orang tua.

“Untuk SD ada satu yang mengundurkan diri karena masih belum bisa berpisah dengan orang tuanya. Lebih memilih kembali hidup bersama orang tua dan sekolah di sekolah reguler,” jelasnya.

Bayu menyebut kesiapan anak dan orang tua menjadi salah satu tantangan dalam pemenuhan kuota siswa Sekolah Rakyat. Tidak semua orang tua siap melepas anaknya untuk tinggal di asrama dalam waktu tertentu.

“Tidak semua orang tua siap anaknya bersekolah dengan sistem asrama. Anak yang baru lulus itu kan masih membutuhkan pendampingan. Jadi, tidak semuanya siap berpisah dengan anak untuk sementara waktu,” terangnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *