
Jember (beritajatim.com) – Hanung Bramantyo menyutradarai film horor berlatar belakang sejarah peristiwa Gerakan 30 September 1965 berjudul “Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah” yang resmi diputar di bioskop-bioskop pada 1 Oktober 2026.
Film yang dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusse, dan Khiva Iskak ini menampilkan peristiwa berdarah 1965 dari perspektif yang berbeda. Melalui perspektif tersebut, Hanung mengajak penonton, terutama dari kalangan anak muda, untuk tidak melupakan tragedi tersebut.
Hanung lebih suka menyebut filmnya bergenre drama misteri investigasi daripada horor. “Itu lebih pas daripada sekadar horor,” katanya.
Usai penayangan filmnya di bioskop Kota Cinema Mall (KCM) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang bekerja sama dengan Universitas Jember, Minggu (21/9/2026), Hanung melayani wawancara dengan sejumlah wartawan. Berikut wawancara tersebut.
Wartawan:
Mengapa Anda membuat film yang berlatar belakang sejarah peristiwa Gerakan 30 September 1965?
Hanung Bramantyo:
Pecinta film kan banyak diisi anak muda. Dalam dua tiga tahun terakhir ini banyak sekali film yang mengangkat keadaan anak muda, bagaimana mereka hidup dan berinteraksi, dan film itu box office, seperti ‘Tunggu Aku Sukses Nanti, Home Sweet Loan, dan Komang. Itu adalah film-film yang membicarakan anak muda dan penontonnya juga anak-anak muda.
Berbanding terbalik ketika kita bicara tentang film sejarah. Film-film sejarah selalu penontonnya sedikit. Ada film yang disutradarai Emil (Emil Heradi, film Kupu-Kupu Kertas) yang mengangkat kisah cinta antara pemuda komunis dengan seorang perempuan NU, dalam tiga hari turun layar.
Enggak tahu kenapa alasannya. Jadi belum sempat mendapatkan sambutan, sudah turun layar. Padahal saya sendiri ingin banget menonton film itu.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber