
Jakarta (ANTARA) – Pegiat Seni Jawa Timur, Heri Lentho mengatakan bahwa sound horeg memiliki peluang positif dalam menumbuhkan ekonomi berbasis kreativitas dan budaya dengan standar yang lebih baik termasuk lebih ramah di ruang publik.
“Saya bahkan melihat peluang untuk mendorong sound horeg menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan budaya pertunjukan rakyat, tetapi dengan standar baru: ramah lingkungan, aman, tertib, tidak mengganggu kelompok rentan, tidak merusak fasilitas, tidak menggunakan alkohol sebagai bagian dari hiburan, dan tetap menghormati ruang publik,” ujar Heri Prasetyo atau yang biasa disapa Heri Lentho saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan bahwa kreativitas masyarakat dapat terus berkembang dan ditingkatkan dari sisi kualitas tanpa harus mematikan kreativitas.
“Yang perlu kita lakukan adalah menaikkan kelas kreativitas itu dengan menaikkan pula kesadaran tanggung jawab sosialnya, sebab budaya bukan hanya soal bagaimana manusia mengekspresikan dirinya,” katanya.
Ia menyerukan bahwa ekspresi budaya dapat dilakukan dengan tetap menghormati sesama manusia, sebab persoalan sound horeg pada akhirnya bukan hanya persoalan suara.
“Ini adalah persoalan sensitivitas sosial. Ketika telinga kita semakin sensitif terhadap suara musik, jangan sampai hati kita justru semakin tidak sensitif terhadap penderitaan orang lain. Hiburan boleh keras, kreativitas boleh liar tetapi kemanusiaan harus tetap menjadi batasnya,” tegasnya.
Ia juga melihat perkembangan sound horeg sebagai bagian dari perubahan budaya masyarakat yang semula memanfaatkan sound system sebagai alat untuk mengiringi sebuah acara namun kini berkembang menjadi sebuah tontonan.
Ini perubahan yang penting, artinya, yang dijual bukan hanya musiknya, tetapi juga kekuatan suara, kendaraan, lampu, visual, penampil, komunitas, bahkan identitas pemilik sound system,” jelasnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber