:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kekeringan-meluas-di-bjnegoro.jpg)
SURYA.CO.ID BOJONEGORO – Krisis air bersih melanda 74 desa di 19 kecamatan di Bojonegoro, Jawa Timur, seiring kemarau panjang 2026 yang diperkirakan lebih kering dan berlangsung hingga akhir tahun, berdasarkan data terbaru BPBD Kabupaten Bojonegoro kini.
Jumlah desa yang terdampak kekeringan tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika hanya 14 desa di 13 kecamatan yang terdampak.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bojonegoro per 24 September 2026, sebanyak 74 desa di 19 kecamatan terdampak kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih.
Kondisi tersebut diperkirakan masih meluas seiring musim kemarau panjang 2026. BPBD Bojonegoro terus mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak bersama sejumlah perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) serta lembaga kemasyarakatan.
Kalaksa BPBD Kabupaten Bojonegoro, Heru Wicaksi, menjelaskan musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diprediksi bakal berlangsung hingga akhir tahun.
Heru mengatakan tahun ini dampak kekeringan mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan 2025 yang relatif terkendali.
“Perbandingan kekeringan tahun 2025 dan 2026 menunjukkan bahwa dinamika perubahan iklim menuntut tata kelola kebencanaan yang responsif dan kolaboratif,” ujar Heru, pada Kamis (24/9/2026).
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber