
Blitar (beritajatim.com) – Kepergian Guruh Soekarno Putra menyisakan duka mendalam sekaligus penghormatan tinggi dari keluarga besar PDI Perjuangan. Ketua DPC PDIP Kota Blitar, Yudi Meira, mengenang putra bungsu Presiden pertama RI, Soekarno, tersebut sebagai figur utuh yang berhasil memadukan kedalaman seni, dedikasi politik, dan konsistensi merawat ideologi bangsa.
Menurut Yudi, sosok yang akrab disapa Mas Guruh itu tidak sekadar dikenal karena nama besar ayahnya. Lebih dari itu, ia adalah seniman, budayawan, serta politisi yang memiliki rekam jejak panjang dalam panggung politik dan parlemen Indonesia.
“Bagi banyak kader dan simpatisan PDI Perjuangan, khususnya di Kota Blitar, Mas Guruh merupakan salah satu figur yang sangat lekat dengan pemikiran Bung Karno. Beliau senantiasa menempatkan kebudayaan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai pilar penting kehidupan berbangsa,” ujar Yudi Meira pada Sabtu (26/9/2026).
Yudi menyoroti perjalanan panjang pengabdian Guruh di jalur legislatif sebagai anggota DPR RI sejak awal 1990-an hingga 2024. Selama lebih dari tiga dekade berada di parlemen, Guruh dinilai berhasil membawa identitas ganda yang harmonis yakni seorang seniman besar yang berjuang menjaga gagasan dan nilai-nilai warisan Bung Karno.
Di mata para kader Kota Patria, semangat Marhaenisme yang menjadi ajaran utama Bung Karno terpancar kuat dalam cara pandang Guruh saat merespons persoalan rakyat dan kebudayaan nasional.
“Bagi beliau, perjuangan politik bukan semata-mata tentang mengejar kekuasaan. Politik adalah bagaimana nilai-nilai kebangsaan, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap rakyat terus dijaga secara konsisten di tengah perubahan zaman,” tegas Yudi.
Kepergian Guruh Soekarnoputra kini meninggalkan catatan sejarah yang mendalam. Meski menyandang nama besar Sang Proklamator, Guruh dinilai berhasil menapaki jalannya sendiri sebagai maestro seni dan legislator yang berdedikasi.
“Guruh Soekarnoputra bukan sekadar bagian dari sejarah keluarga Bung Karno. Beliau adalah sosok dengan perjalanan hidup dan pengabdian mandiri yang turut mewarnai perjalanan kebudayaan serta politik Indonesia selama beberapa dekade. Warisan pemikiran dan dedikasinya akan terus hidup,” pungkas Yudi. (owi/ian)
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber