BANYUWANGIHITS.ID – Kepedulian terhadap sejarah, seni, budaya, dan tradisi lokal mendorong sekelompok pemuda di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, membentuk Komunitas Sonangkara.

Komunitas yang beranggotakan sekitar 25 orang ini berpusat di Dusun Derwono, Desa Balak, Kecamatan Songgon. Tempat tersebut oleh pendirinya, Wong Agung Mukti Jayadiningrat atau yang akrab disapa Mas Agung, disebut sebagai Dalem Joyodiningratan sekaligus markas Komunitas Sonangkara.

Para anggota Sonangkara berasal dari berbagai latar belakang. Mereka merupakan pegiat sejarah, seni, budaya, spiritual, hingga kajian supranatural. Komunitas ini pada awalnya terbentuk dari kebiasaan berkumpul dan ngopi bersama. Dari pertemuan informal tersebut, kemudian muncul gagasan untuk membuat kegiatan yang lebih terarah. Salah satunya adalah pertemuan rutin setiap malam Jumat Kliwon yang diisi dengan berbagai aktivitas budaya dan eksplorasi sejarah.

Mas Agung menjelaskan, nama Sonangkara terinspirasi dari kisah pasukan elit Kerajaan Blambangan pada era Pangeran Danuningrat, yang disebut berlangsung sekitar abad ke-18.

Pasukan tersebut menggunakan simbol anjing hutan yang oleh masyarakat Banyuwangi dikenal dengan sebutan baong. Menurut Mas Agung, filosofi baong menggambarkan sejumlah nilai, seperti ketaatan kepada pemimpin, kesetiaan, ketangkasan, kekompakan, serta kemampuan bekerja dalam tim. Nilai-nilai tersebut kemudian dijadikan inspirasi dalam membangun karakter para anggota Komunitas Sonangkara. Mas Agung ingin komunitas tersebut menjadi ruang bagi para pemuda untuk menemukan dan mengembangkan potensi masing-masing.
“Banyak sekali di sekitar kita para pemuda dan generasi muda yang mencari jati dirinya dengan membentuk dirinya menjadi seniman, budayawan, sejarawan, spiritualis, maupun supranaturalis. Namun, karena tidak ada edukasi dan pendampingan yang baik, mereka menjadi abal-abal. Berbekal foto dan posting di media sosial, mereka sudah mengatakan dirinya seperti itu. Ini yang menjadi keprihatinan saya,” kata Mas Agung.

Menurutnya, anggota Sonangkara yang sebagian besar berusia 25 hingga 40 tahun diarahkan untuk mengembangkan minat dan kemampuannya secara lebih serius. Mereka didorong tidak hanya menggunakan identitas sebagai pegiat sejarah, budaya, seni, atau bidang lainnya di media sosial, tetapi juga menghasilkan karya dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat melalui aktivitas nyata.

Sejumlah kegiatan pun dilakukan secara rutin. Di antaranya meditasi di sejumlah situs sejarah pada malam Jumat Kliwon, eksplorasi sejarah setiap bulan di wilayah eks Karesidenan Besuki, serta mendukung kegiatan GENTA, seperti haul Rempeg dan Haul Tawang Alun.

Komunitas ini juga melakukan kegiatan spiritual di kawasan Alas Purwo dan berbagai kegiatan lainnya. Namun, salah satu aktivitas yang paling sering dilakukan para anggota adalah ngopi bersama.
Bagi Sonangkara, kegiatan berkumpul tersebut bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi menjadi ruang berdiskusi, bertukar pengetahuan, sekaligus mempererat hubungan antar anggotanya.
Berbagai kegiatan Komunitas Sonangkara dilaksanakan secara swadaya. Para anggota mengandalkan iuran dan kas komunitas untuk membiayai kegiatan. Bahkan ketika membantu renovasi atau perawatan situs-situs sejarah, komunitas tetap berupaya memberikan kontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *