Jakarta (ANTARA) – Pemerintah didorong untuk memperkuat kolaborasi bersama pelaku industri, korporasi, serta akademisi guna mengoptimalkan momentum bonus demografi.

Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) I Dewa Gede Karma Wisana dalam Kontan Economic & Demographic Forum di Jakarta, Selasa, menjelaskan peta demografi Indonesia menunjukkan fenomena susunan keluarga yang makin panjang dan meramping.

Momentum tersebut bersamaan dengan perubahan struktur pendudukan yang kian kompleks, misalnya meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dan mengecilnya angka kelahiran.

Dia menyoroti angka kelahiran turun dari 5,61 anak per perempuan pada 1971 menjadi 2,13 berdasarkan prediksi hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025.

Sebaliknya, jumlah populasi penduduk berusia 60 tahun ke atas diproyeksikan melonjak, dari posisi 33,8 juta jiwa pada 2025 menjadi 65,6 juta jiwa pada 2045.

LD FEB UI mencatat 59,4 persen pekerja nasional masih bergelut di sektor informal, sedangkan tingkat pengangguran pemuda (usia 15-24 tahun) telah mencapai 16,4 persen.

Menurut Dewa, kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan ekonomi terhadap kelompok usia produktif yang harus menopang kebutuhan anak sekaligus lansia.

Fenomena generasi sandwich pun disebut makin mencuat ketika Indonesia memasuki fase aging population dan ketergantungan ekonomi antargenerasi menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *