
damarinfo.com – Udara 1960-an di sebuah kampung terpencil di Ketapang, Cepu, Blora, Jawa Tengah, diwarnai alunan melodi asing. Dekat aliran Bengawan Solo, seorang pemuda bernama Lan telaten mengajari anak-anak kecil sebuah lagu: Genjer-Genjer.
Warga mengenal Lan sebagai kader Pemuda Rakyat, salah satu organisasi underbow PKI. Lagu karya seniman Banyuwangi, Moh Arief, itu sangat merakyat dan sering berkumandang dalam berbagai acara massal. Organisasi sayap kiri seperti Barisan Tani Indonesia, Gerwani, Pemuda Rakyat, hingga Lekra bergerak militan menyebarkan pengaruh hingga ke akar rumput.
Fauzi, 67 tahun, warga asli Ketapang Cepu, menyimpan rapi ingatan masa kecilnya. Ia adalah salah satu anak yang dulu sering diajari Lan menyanyikan lagu tersebut di sekolah dasar.
Namun, sejarah berbalik arah dengan kejam. Pasca-letusan G30S 1965, jejak Lan menguap begitu saja. Keluarganya tercerai-berai; sebagian pindah ke Kediri dan Surabaya, sementara rumah mereka di Ketapang telah berpindah tangan.
Kecamatan Cepu dan wilayah Blora kala itu masyhur sebagai jantung kekuatan kelompok kiri. Letaknya yang berbatasan dengan Jawa Timur membuat kawasan ini dijuluki daerah “Tapak Merah”—wilayah penyangga yang berdekatan dengan Madiun, yang sejak 1959 menjadi basis pergerakan komunis bersama Bojonegoro, Ngawi, dan Tuban.
Bergeser ke barat, cerita berbeda terukir di Kecamatan Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur. Ketegangan sosial menyelimuti desa-desa di wilayah barat Bojonegoro dan mencekam warga, khususnya para santri serta keluarga agamawan.
Udin, 56 tahun, mengenang kisah getir orang tuanya. Di tengah ancaman kebencian kelompok kiri terhadap kaum santri, keluarga Udin mencari perlindungan kepada Kyai Basir di Kampung Petak, Desa Beged (kini Kecamatan Gayam).
“Ibu mengungsi dalam keadaan mengandung janin saya. Kami mengungsi ke tempat Mbah Basir sore menjelang magrib,” tutur Udin.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber