
Bojonegoro – Padi varietas Gamagora menjadi salah satu pilihan petani Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur untuk mempertahankan produksi di tengah kondisi kekeringan. Di Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, produktivitas padi Kelompok Tani (Poktan) Sri Rejeki meningkat dari rata-rata 7,5 ton menjadi 10,6 ton per hektare.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Rejeki, di Desa Luwhaji, Sumadi, mengatakan penggunaan varietas Gamagora memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan padi yang sebelumnya ditanam.
“Panen Gamagora tersebut dijadwalkan berlangsung Oktober 2026,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Sabtu (3/10/2026).
Dengan harga gabah sekitar Rp7.500 per kilogram, hasil 10,6 ton per hektare setara dengan nilai produksi sekitar Rp79,5 juta per hektare. Sementara peningkatan produksi sekitar 3 ton per hektare, memberikan tambahan nilai sekitar Rp22,5 juta per hektare.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ngraho, M. Minan, membenarkan hal tersebut. Selain produktivitasnya lebih tinggi, Gamagora juga memiliki kelebihan dalam perawatan. Umur tanaman yang relatif pendek membuat petani lebih mudah mengatur masa tanam dan panen.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani menjelaskan, budidaya Gamagora menjadi bagian dari upaya petani mempertahankan produksi padi di tengah tantangan musim kemarau.
Penggunaan varietas Gamagora sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk menjaga produksi padi saat menghadapi kemarau panjang. Pemkab mendorong petani melakukan percepatan tanam dan memilih varietas yang lebih sesuai dengan kondisi ketersediaan air.
Strategi percepatan tanam dilakukan dengan memanfaatkan kondisi lahan dan ketersediaan air lebih awal, sebelum memasuki periode kemarau yang lebih kering. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi risiko penurunan produksi akibat keterbatasan air.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber