:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/pmi-wanita-asal-geger-bangkalan-meninggal.jpg)
TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Langit Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, kembali berduka seiring kedatangan jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia, Siti Karimah di kampung halamannya, Desa Banyoning Laok, Kecamatan Geger pada Sabtu (3/10/2026) malam. Sosok perempuan tangguh itu meninggalkan kampung halaman saat masih berusia 26 tahun, ia sempat bekerja sebagai buruh bangunan sebelum pindah kerja di sebuah kantin.
Perempuan berusia 56 tahun itu meninggal dunia di Rumah Sakit Tuanku Ja’afar, Seremban Negeri Sembilan karena pendarahan otak, Kamis (1/10/2026). Surat bukti pencatatan kematian Karimah telah diterbtikan Keduataan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur tertanggal 2 Oktober 2026 Nomor : 01712/SBPM-KL/1026/04.
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Bangkalan, Jemmi Tria Sukmana mengungkapkan, kegiatan fasilitasi pemulangan jenazah PMI Karimah dilakukan setelah pihak disperinaker menerima Surat KBRI Kuala Lumpa tertanggal 1 Oktober 2026 yang menyebutkan almarhumah meninggal dunia pada pukul 15.19 WIB.
“Almarhumah awalnya mengeluh pusing saat bekerja, kemudian masuk Rumah Sakit Tuanku Ja’afar, Seremban Negeri Sembilan dan dinyatakan meninggal karena pendarahan otak sekitar pukul 15.19 WIB. Sempat bekerja sebagai pekerja konstruksi sebelum pindah bekerja di sebuah kantin,” ungkap Jemmi kepada Tribun Madura, Minggu (4/10/2026).
Ia menjelaskan, jenazah Karimah diterbangkan dari Malaysi menggunakan maskapai Malaysia Airline Berhad MH 873 pada Santu (3/10/2026) dan tiba di Bandara Inetrnasional Juanda, Sidoarjo pada pukul 15.30 WIB. Almarhumah tiba di rumah duka pada pukul 19.00 WIB dengan kendaraan ambulan milik Pos Pelayanan Perlindungan Kerja Migran Indonesia (P4MI) Pamekasan.
“Alhamdulillah, jenazah diserahterimakan kepada salah seorang anggota keluarga almarhum, yakni Abdul Rozak Al Mamudi selaku anak almarhumah Karimah. Hadir juga tadi malam Kepala Desa Banyoning Laok,” jelas Jemmi.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari anak ketiganya, Abdul Rozak, lanjut Jemmi, almarhumah meninggalkan empat orang anak dan berangkat ke Malaysia saat Rozak masih berusia balita.
“Suaminya juga ada di Malyasia, kemarin turut mengantar mengantar jenazah isterinya. Namun kami tidak tahu apakah akan kembali lagi ke Malaysia. Mereka sebelumnya, setiap setahun atau dua tahun sekali pulang,” papar Jemmi.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber