
Di Kecamatan Muncar, Banyuwangi Selatan, berdiri pura terbesar di seluruh Kabupaten Banyuwangi. Pura Agung Blambangan berada di Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, yang berdiri di atas lahan seluas sekitar satu hektar yang dulunya adalah situs Umpak Songo, peninggalan Kerajaan Blambangan.
Kerajaan itu adalah kerajaan Hindu terakhir yang pernah berdiri di Pulau Jawa, sebelum akhirnya runtuh setelah Belanda memenangkan Perang Puputan Bayu pada abad ke-18.
Pura ini diresmikan pada Hari Raya Kuningan 1980, setelah melalui proses yang dimulai sejak 1967 ketika komunitas Hindu setempat mencari lokasi baru yang lebih luas untuk tempat ibadah mereka.
Titik yang dipilih merupakan sebuah sumber mata air atau sumur kuno di kawasan itu sudah lama diyakini warga sebagai peninggalan langsung dari Kerajaan Blambangan. Dari titik itulah pura dibangun dan hari peresmiannya pun sengaja dipilih bertepatan dengan piodalan pura.
Bagi Kawan GNFI yang sedang menjelajahi Banyuwangi, Pura Agung Blambangan adalah destinasi yang menempatkan satu fragmen sejarah besar Nusantara dalam konteks yang masih hidup dan aktif digunakan hari ini.
Sejarah Kerajaan Blambangan terbilang jarang dibahas dalam narasi sejarah Indonesia yang lebih sering terpusat pada kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah. Padahal pengaruhnya cukup besar, terutama di kawasan ujung timur Pulau Jawa dan terhadap budaya Bali.
Nama Blambangan sendiri baru muncul dalam beberapa serat yang dituliskan pada abad ke-18, di masa kekuasaan Mataram Islam dan Belanda sedang kuat di Jawa Tengah.
Pengaruh Mataram yang tidak menyentuh kawasan ini membuat Banyuwangi berkembang dengan warna budaya yang berbeda dari Jawa pada umumnya, termasuk dalam bahasa dan keseniannya yang lebih dekat ke Bali dari pada Jawa Tengah.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber