/data/photo/2023/05/26/647039f576582.jpeg)
BANYUWANGI, KOMPAS.com – Di balik lanskap dan fenomena blue fire, Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur, menyimpan jejak letusan dahysat tahun 1817. Bahkan, letusan tersebut mengubah kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Peneliti Warisan Geologi Kabupaten Banyuwangi, Abdillah Baraas mengatakan, letusan Gunung Ijen saat itu tidak hanya memuntahkan abu dan material vulkanis, tapi juga memicu bencana susulan yang berdampak hingga ke permukiman warga.
Pada Januari 1817, letusan eksplosif membuat langit Banyuwangi gelap selama beberapa hari.
Gemuruh terdengar seperti dentuman meriam, sedangkan abu tebal dan material belerang mencemari udara.
Bencana semakin parah setelah hujan deras mengguyur kawasan puncak. Material vulkanis yang menumpuk di lereng tersapu air dan berubah menjadi aliran lumpur yang menerjang permukiman.
“Dalam catatan sejarah, material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung tersapu air hujan, berubah menjadi aliran lumpur pekat yang menerjang desa-desa seperti Bakoengan (Bakungan), Balook (Baluk), dan Patemon, hingga meratakan puluhan rumah,” cerita Abdillah, Rabu (7/10/2026).
Aliran lumpur juga menjalar ke Sungai Tambong hingga bermuara ke laut. Bahkan, material tersebut sempat menyumbat alur sungai dan membentuk kawasan rawa baru yang mengubah kondisi wilayah Banyuwangi kala itu.
Dampak letusan tidak berhenti pada kerusakan permukiman. Hutan Ijen turut porak-poranda, dengan timbunan abu dilaporkan mencapai sekitar 20 kaki dan menimbun satwa seperti harimau, rusa, dan ribuan burung.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber