
BANGKALAN || KLIKMADURA – Di tengah ancaman kekeringan saat musim kemarau, masyarakat Desa Patenteng, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, masih menjaga tradisi leluhur melalui Tari Topeng Patenteng.
Kesenian tradisional yang dahulu menjadi bagian dari ritual meminta hujan kepada Tuhan tersebut kini mendapat pendampingan dari dosen dan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) agar tidak tergerus zaman.
Pendampingan itu dilaksanakan melalui program pengabdian kepada masyarakat selama satu semester atau enam bulan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya merawat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sekaligus menghidupkan kembali kesenian lokal yang mulai ditinggalkan generasi muda.
Bagi masyarakat setempat, Tari Topeng Patenteng bukan sekadar pertunjukan seni. Di balik gerakan para penari dan iringan musik tradisional, tersimpan nilai sejarah, spiritualitas, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Munir, salah satu pihak yang terlibat dalam pendampingan, menjelaskan bahwa Tari Topeng Patenteng memiliki karakter dan struktur gerakan yang berbeda pada setiap tokohnya. Tarian tersebut melibatkan lima penari dengan karakter yang telah ditentukan.
“Jadi ada Panji Lakek (laki-laki) dan Panji Binek (perempuan), butho, dan sepasang punakawan. Semuanya itu memiliki struktur tarian masing-masing. Itu yang saat ini sedang kami jaga agar tarian ini memiliki karakter dan tidak asal menari,” ucapnya, Jumat (9/10/2026).
Selain memiliki karakter penari yang khas, Tari Topeng Patenteng diiringi musik tradisional Bangkalan yang dikenal sebagai musik dhuk-dhuk. Iringan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun suasana pertunjukan sekaligus mempertahankan identitas kesenian setempat.
Tari Topeng Patenteng memiliki hubungan erat dengan tradisi masyarakat dalam menghadapi musim kemarau. Pada masa lalu, tarian ini digelar sebagai bagian dari ritual memohon hujan kepada Tuhan ketika sumber air mulai berkurang.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber