
Jombang, (afederasi.com) – Pementasan Ludruk Kontemporer berjudul “WUH” yang dipentaskan oleh Komunitas Tombo Ati (KTA) Jombang sukses menyedot antusias perhatian ratusan penonton yang hadir dalam pementasan yang digelar di Gedung Kesenian Kabupaten Jombang, Minggu (11/10/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara peringatan Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Jombang ke 116 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang.
Pementasan ludruk kontemporer ini turut dihadiri sejumlah tamu undangan penting, di antaranya Bunda Literasi Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi, Anggota DPRD Kabupaten Jombang, Staf Ahli Bupati Jombang, Kepala Dinas Kominfo Jombang, Kepala Dinas Disporapar Jombang, Kepala BKSDM Jombang, serta para penggiat budaya Kabupaten Jombang.
Dalam sambutannya, Bupati Jombang Warsubi yang dibacakan oleh Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Jombang, Drs. Anwar, M.KP menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Tombo Ati, Disdikbud Kabupaten Jombang, para budayawan, seniman, penggiat budaya, hingga panitia pelaksana yang telah menghadirkan karya seni ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Jombang Fest 2026 ini
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jombang, Bupati Jombang menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Tombo Ati, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, para budayawan, seniman, penggiat budaya hingga panitia pelaksana yang telah menghadirkan karya seni ini sebagai bagian rangkaian kegiatan Jombang Fest 2026,” terang Anwar.
Anwar menjelaskan bahwa Ludruk merupakan kesenian yang telah lama hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Di dalamnya terdapat cerita, humor, musik, dan pemeran yang menjadi gambaran kehidupan masyarakat, sehingga membuat ludruk memiliki kedekatan tersendiri dengan penontonnya.
“Namun zaman terus berubah, cara masyarakat menilai seni juga mengalami perubahan. Generasi hari ini tumbuh dengan pengalaman dan kebiasaan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Ludruk juga perlu mengikuti perkembangan zaman agar tetap dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, bentuk pertunjukannya dapat dipadukan dengan unsur-unsur masa kini tanpa meninggalkan karakter dan spirit ludruk itu sendiri. Hal inilah yang dihadirkan melalui Ludruk Kontemporer “WUH” yang dikemas lebih kekinian sehingga diharapkan lebih familiar bagi penonton, terutama generasi muda. Pementasan ini juga terbuka secara gratis bagi masyarakat.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber