Harga kedelai di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menembus Rp18.500 per kilogram pada Selasa, 13 Oktober 2026. Kenaikan ini menjadi rekor harga tertinggi kedelai yang dilaporkan terjadi selama ini di wilayah tersebut.
Lonjakan harga terjadi pada kedelai lokal maupun impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe dan tahu. Kondisi ini berpotensi menambah beban biaya produksi para perajin tempe dan tahu di Bojonegoro.
Berdasarkan pantauan harga di sejumlah pasar tradisional, termasuk Pasar Pariwisata dan Pasar Banjarejo, serta data Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Dindagkop dan UM) Kabupaten Bojonegoro, harga kedua jenis kedelai mengalami kenaikan signifikan.
Harga kedelai lokal kini mencapai Rp18.500 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp14.372,73 per kilogram. Dengan demikian, harga komoditas ini meningkat Rp4.127,27 atau sekitar 28,72 persen berdasarkan angka pembanding tersebut.
Sementara itu, harga kedelai impor mencapai Rp18.400 per kilogram, dibandingkan harga sebelumnya Rp13.457,58 per kilogram. Kenaikannya mencapai Rp4.942,42 atau sekitar 36,73 persen.
Kenaikan tersebut membuat harga kedelai lokal kini lebih mahal Rp100 per kilogram dibandingkan kedelai impor.
Menurut Darmaji, pedagang di Pasar Pariwisata Bojonegoro, harga kedelai lokal yang mencapai Rp18.500 per kg, jadi yang tertinggi selama ini. Karena, harga tertinggi sebelumnya tetap tertinggi di kisaran Rp17.500 per kg. “Jadi ini, yang tertinggi kedelai lokal selama ini,” paparnya pada Ngopibareng.id, Selasa 13 Oktober 2026
Data perbandingan harga menunjukkan kedelai lokal dan impor sama-sama mengalami kenaikan tajam. Bahkan, kenaikan nominal kedelai impor lebih besar daripada kedelai lokal.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber