
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Arosbaya, Kabupaten Bangkalan menggelar pembacaan Burdah di atas perahu di kawasan Pantai Desa Tengket, Kecamatan Arosbaya, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri 2026 sekaligus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW dan merawat tradisi keislaman pesantren.
Ketua PAC Fatayat NU Arosbaya, Nyai Hj Dlaat Fityatun Syarifuddin mengatakan bahwa, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Santri, tetapi juga ikhtiar untuk memperkuat spiritualitas, meneguhkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), serta mempererat solidaritas antarkader.
Menurutnya, pembacaan Burdah menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW yang diharapkan tercermin dalam perilaku sehari-hari, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Santri perempuan bukan hanya pewaris tradisi, tetapi juga pelaku perubahan dan penjaga masa depan peradaban. Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan melalui akhlak, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya kepada NU Online Jatim, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, perempuan muda NU perlu terus mengembangkan kapasitas diri dan mengambil peran strategis di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama. “Iman, ilmu, dan akhlak harus menjadi landasan bagi kader Fatayat NU dalam menjalankan perjuangan dan berkontribusi bagi masyarakat,” sambungnya.
Dirinya menuturkan, kegiatan tersebut mengusung tema ‘Mengarungi Samudra Asa, Jiwa Santri, Jangkar Peradaban’. Tema ini merefleksikan semangat santri perempuan dalam menatap masa depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman dan tradisi pesantren.
“Pembacaan Burdah yang dilaksanakan di atas perahu menjadi simbol perjalanan spiritual sekaligus refleksi atas tantangan kehidupan. Samudra menggambarkan luasnya harapan dan tantangan masa depan, jiwa santri merepresentasikan keteguhan iman serta kecintaan kepada Rasulullah SAW, sedangkan jangkar peradaban melambangkan agama, ilmu, dan akhlak sebagai pegangan agar manusia tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman,” terangnya.
Nyai Fityatun menjelaskan, pemilihan perahu sebagai tempat pelaksanaan kegiatan merupakan upaya menghadirkan tradisi pesantren melalui pendekatan yang kreatif dan kontekstual, tanpa menghilangkan esensi spiritualnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber