/data/photo/2026/10/14/6acf91de2f158.jpg)
BANGKALAN, KOMPAS.com – Perjuangan Ajies Sabara bersama dua saudaranya untuk membuat motor kustom yang unik berbuah manis. Setelah berhasil menjuarai Kustomfest 2026 di Yogyakarta, Ajies akan membawa motor kustomnya untuk tampil di Jepang.
Pria yang saat ini bekerja sebagai guru kesenian di SMK Al Hikam Kemayoran, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, itu mengaku sejak kecil menyukai dunia menggambar dan membuat patung.
Saat beranjak remaja, ia kerap melihat kakaknya memodifikasi motor dan mewarnai ulang motor di bengkel. Kecintaannya pada dunia seni itu perlahan ia aplikasikan pada sepeda.
“Jadi pertama buat itu saya pakai sepeda angin. Dari desain gambar yang sudah saya buat itu lalu saya aplikasikan ke sepeda. Itu tahun 2008,” ucapnya, Rabu (14/10/2026).
Dari situlah, pria berusia 33 tahun itu mulai menekuni dunia kustom. Sebab, ia melihat gambar yang ia buat tak hanya berhenti di kertas dan patung, namun juga bisa ditampilkan dalam bentuk lain yakni motor.
Keseriusannya memodifikasi motor itu lalu mulai ia tekuni bersama dua kakaknya yakni Nanang Khairullah dan Yudhi Apriyanto. Di tahun 2018, ia mulai membuat proyek modifikasi dan custom motor yang ia beri nama ‘Pelor Angin’.
Pemilihan nama pelor angin itu menurut Ajies bukan tanpa sebab. Nama tersebut tak lagi asing bagi masyarakat Madura. Sebab, nama pelor angin merupakan sapi karapan yang dikenal paling cepat di arena.
“Untuk nama kami terinsipirasi dari sapi karapan dan untuk desain kami terinsipirasi dari senapan. Arti kata pelor sendiri di bahasa Madura juga berarti senapan. Jadi klop,” tuturnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber