Banyuwangi mungkin sering kali di kenal sebagai pulau perlintasan di ujung jawa timur, tempat singgah untuk menuju pulau Bali. Namun, dalam dekade terakhir, peta tersebut berubah drastis, Banyuwangi bertrasformasi menjadi salah satu kawasan yang paling dinamis di Jawa Timur. Pertumbuhan suatu wilayah memang sering kali bergantung terhadap faktor geografi fisik, seperti Pelabuhan atau jalur perdagangan. Namun di dalam ekonomi modern yang berbasis pengetahuan, daya saing daerah yang bergeser ke geografi talenta yaitu seberapa mampu suatu wilayah mampu menarik dan menampung orang — orang yang terdidik serta orang yang mempunyai kreatifitas tinggi.

Banyuwangi mendapat peluang tersebut bukan dengan membangun kawasan industri yang Perusahaan yang kaku, melainkan dengan merancang festival dan ruang publik sebagai alat pemikat modal manusia.

Ketika menghadiri Banyuwangi Ethno Carnival, ajang seni budaya lokal, hingga pertujukan musik dalam ruang terbuka, jangan sekali kali membayangkan bahwa itu merupakan selebrasi biasa. Secara sosial ekonomi, rangkaian agenda dalam Banyuwangi tersebut senantiasa untuk bekerja menjadi mesin pencipta collisionabilty. Dalam istilah collisionabilty dapat menggambarkan frekuensi yang dapat terjadi interaksi tatap muka secara spontan antar individu. Ketika para seniman lokal, desainer, fotografer, pengusaha kuliner berkumpul di arena festival yang sama, dengan menukar ide dan gagasan dengan seksama.

Dengan adanya kegiatan tersebut kita dapat lebih mudah untuk riset ekonomi yang menunjukkan bahwa ketika orang — orang dapat menukar ide dengan kreatifitas itu dapat mudah untuk saling berinteraksi. Di Banyuwangi, festival — festival tersebut menjadi ruang utama dimana kreativitas menjamin untuk dapat membuat wilayah Banyuwangi menjadi siap untuk bersaing dalam negeri maupun luar negeri.

Kini anak — anak muda mulai betah berkreativitas dan berkarya karena pakar ekonomi perkotaan Richard Florida dan Edward Glaeser mencatat bahwa kelompok kelas kreatf tidak lagi memilah milih tempat tinggal karena iming — imingan gaji ataupun insentif kantor. Mereka berburu lokasi yang menawarkan tiga hal:

Penataan ruang public, kebersihan kota, serta keasrian alam yang ada di Banyuwangi dapat menyediakan fasilitas gaya hidup bagi seorang creator konten, influencer, atau bahkan pengusaha muda. Maka dari itu mendapat pekerjaan di Banyuwangi memberikan keseimbangan antara produktivitas dan dapat menenangkan gaya hidup.

Pada setiap tahunnya, perguruan tinggi yang ada di Banyuwangi seperti PSDKU Universitas Airlangga, Poliwangi, dan institusi — institusi lainnya dapat meluluskan ratusan hingga ribuan anak muda yang terdidik. Namun, dengan modal para anak muda yang terdidik ini akan sia — sia ketika kaburnya para pemuda berbakat ke kota — kota besar seperti Surabaya atau Jakarta.

Banyuwangi menyadari bahwa talenta merupakan arus yang harus terus di siram dengan kesempatan — kesempatan yang membuatnya berkembang. Dengan cara menyediakan ekonomi kreatif seperti dari festival tahunan, kegiatan para pemuda dalam setiap daerah, hingga adanya ruang – ruang komunitas di Banyuwangi memberi alasan bagi lulsan muda untuk dapat bertahan, berwirausaha, dan dapat membanggakan tanah kelahirannya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *