
Jawa Timur memiliki sejumlah ulama dan tokoh pesantren yang berperan dalam sejarah Indonesia. Kiprah mereka tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama, tetapi juga perjuangan melawan penjajahan, penguatan organisasi, hingga pembangunan bangsa setelah kemerdekaan.
Ada enam tokoh yang menarik untuk dikenali, yakni KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin, Syaikhona Muhammad Kholil, dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Lantas, bagaimana perjalanan dan kontribusi masing-masing tokoh?
Enam tokoh berikut memiliki kiprah yang berbeda. Sebagian berjuang lewat pendidikan dan organisasi, sementara yang lain terlibat dalam upaya mempertahankan kemerdekaan maupun setelah Indonesia merdeka. Berikut profil enam tokoh dari lingkungan pesantren yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Jawa Timur.
KH Muhammad Hasyim Asy’ari merupakan ulama besar asal Jombang yang berperan penting dalam perkembangan pesantren dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Tebuireng serta salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Hasyim Asy’ari lahir pada 14 Februari 1871, dan tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan tradisi pendidikan Islam. Sejak muda, ia menimba ilmu dari sejumlah pesantren di Jawa sebelum berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam pengetahuan agama.
Setelah kembali ke tanah air, ia mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang pada 1899. Pesantren tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di Jawa Timur.
Melalui pendidikan, Hasyim Asy’ari membangun lingkungan pembelajaran yang tidak hanya menekankan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab sosial para santri.
Pada 31 Januari 1926, Hasyim Asy’ari bersama sejumlah ulama mendirikan NU di Surabaya. Organisasi ini menjadi wadah untuk memperkuat kehidupan keagamaan, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, dan mengonsolidasikan gerakan ulama.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber