TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN – Aroma malam (bahan dasar membatik-red) yang dicairkan di atas tungku kecil menyeruak hangat, beradu dengan embusan angin asin Pesisir Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. 

Di gubuk-gubuk sederhana para nelayan, gemercik gelombang laut acap kali membawa rasa cemas ketika angin musim tak bersahabat dan hasil tangkapan tak menentu.

Namun, di balik dinding rumah warga, jemari lugu para perempuan pesisir sibuk menorehkan sulur-sulur canting pada selembar kain mori.

Pada momen peringatan Hari Batik, tarian canting ini tak sekadar menjejakkan garis warisan budaya, melainkan menautkan urat nadi ekonomi keluarga nelayan yang kerap diuji cuaca.

Membatik di Tanjung Bumi bukan sekadar menorehkan cairan malam dengan canting di atas helai kain putih. Keunikan paling mendalam dari mahakarya ini terletak pada keberadaan gentong—kendi tanah liat tradisional yang digunakan untuk merendam kain yang telah diwarnai.

Proses perendaman di dalam kegelapan gentong ini membutuhkan waktu yang tidak singkat, berkisar antara 3 hingga 6 bulan, demi melahirkan warna yang meresap sempurna, lebih melekat, dan tampak begitu hidup. 

Di balik proses yang menguji kesabaran tersebut, terikat sebuah filosofi kesucian yang dijaga ketat secara turun-temurun.

Sebelum kain dimasukkan ke dalam wadah tanah liat itu, para perempuan perajin yang terlibat dituntut berada dalam kondisi diri yang bersih.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *