Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2024. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
BANYUWANGI – Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur, Banyuwangi pernah mengalami bencana vulkanik dahsyat yang meninggalkan jejak kelam dalam sejarahnya.
Letusan Gunung Ijen pada Januari 1817 tak hanya membuat langit gelap akibat abu vulkanik, tetapi juga memicu banjir lumpur, menghancurkan permukiman, merusak ekosistem, hingga menyebabkan krisis pangan dan penyakit.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman gunung api tidak berhenti ketika letusan mereda. Material vulkanik yang terbawa hujan dapat berubah menjadi aliran lumpur berbahaya, sementara kerusakan lahan pertanian dan sumber air berpotensi memicu krisis berkepanjangan bagi masyarakat terdampak.
Peneliti Warisan Geologi Kabupaten Banyuwangi, Abdillah Baraas, menjelaskan bahwa rangkaian bencana vulkanik yang pernah melanda kawasan Bumi Blambangan pada masa lalu perlu dipahami kembali.
Selain menyimpan nilai sejarah, catatan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memperkuat mitigasi bencana pada masa kini.
Menurutnya, bencana vulkanik pada abad ke-18 hingga ke-19 tidak hanya berdampak pada kondisi fisik wilayah, tetapi juga mengubah kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara luas.
“Kisah letusan Ijen dan Raung pada abad ke-18 hingga ke-19 mengajarkan kita bahwa dampak bencana tidak berhenti saat dentuman mereda, melainkan memicu krisis multidimensi yang merembet ke sektor pangan, kesehatan, hingga tata ruang wilayah,” kata Abdillah, Rabu (21/10/2026).
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber