
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat pencegahan perundungan dan kekerasan di lingkungan sekolah melalui penguatan pendidikan karakter, optimalisasi kegiatan positif, serta peningkatan layanan konseling bagi murid.
Febrina Kusumawati Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya mengatakan, perlindungan anak perlu dibangun melalui upaya pencegahan yang berkelanjutan, bukan hanya penanganan ketika masalah muncul.
Karena itu, Pemkot mendorong sekolah menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter positif sekaligus memberikan rasa aman bagi murid untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
“Pencegahan harus dimulai dari keseharian anak di sekolah. Kami ingin membangun lingkungan yang membuat murid merasa aman, dihargai, dan nyaman untuk bercerita. Penguatan karakter, komunikasi terbuka, serta pendampingan dari guru dan orang tua menjadi bagian penting untuk mewujudkan hal tersebut,” ujar Febri dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Dispendik mendorong SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, untuk mengoptimalkan kegiatan positif sesuai tahap perkembangan murid, termasuk mendorong penguatan peran teman sebaya dalam membangun budaya antiperundungan. Pengurus kelas, OSIS, serta kader atau duta antiperundungan dapat dilibatkan untuk menumbuhkan kepedulian antarmurid.
Mereka dibimbing agar tidak melakukan perundungan, tidak membiarkan tindakan tersebut terjadi, dan berani melaporkannya kepada orang dewasa yang dapat memberikan pertolongan.
“Anak-anak perlu memahami bahwa ketika melihat temannya mengalami kesulitan, mereka tidak boleh ikut menyakiti atau justru membiarkan. Keberanian untuk membantu dan melapor merupakan bagian dari kepedulian. Namun, penanganannya tetap perlu melibatkan orang dewasa agar keselamatan dan kondisi psikologis anak terjaga,” ujarnya.
Selain pembinaan karakter, Dispendik memperkuat layanan bimbingan dan konseling serta mendorong penyediaan Bilik Curhat sebagai ruang komunikasi yang aman bagi murid.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber