KOMPAS.com – Di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, berdiri sebuah peninggalan kerajaan yang arsitekturnya tak biasa.

Keraton Sumenep memperlihatkan pengaruh budaya Madura, Jawa, China, dan Eropa yang berpadu, tumbuh pelan-pelan seiring perjalanan pemerintahan kerajaan.

Kini keraton itu menjadi museum. Di dalamnya tersimpan jejak kehidupan para raja Sumenep, sekaligus bukti betapa terbukanya masyarakat Madura terhadap pengaruh kebudayaan lain.

Kisah pembangunannya berkelindan dengan sejumlah tokoh kerajaan, terutama Panembahan Somala dan penerusnya, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.

Dalam penelitian Mochammad Ronaldy Aji Saputra, Dewa Agung Gede Agung, dan Agik Nur Efendi yang diterbitkan dalam Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, pembangunan keraton di kawasan Pajagalan berlangsung secara turun-temurun.

Perkembangan keraton tersebut berkaitan dengan masa pemerintahan Bindara Saod, Panembahan Somala, dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.

Bindara Saod memiliki keraton di sebelah barat Keraton Dalam. Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Panembahan Somala, yang bergelar Notokusumo I.

Panembahan Somala melanjutkan pembangunan keraton dengan bantuan seorang arsitek keturunan China bernama Lauw Piango. Menurut penelitian tersebut, pembangunan Keraton Sumenep di Pajagalan berlangsung pada 1778 hingga 1780.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *