
Jember, Diswaymojokerto.id – Ribuan keluarga di Kabupaten Jember, Jawa Timur, harus berjuang mendapatkan air bersih di tengah kemarau berkepanjangan. Sebanyak 3.340 kepala keluarga (KK) di 12 kecamatan terdampak krisis air. Bahkan, warga harus membeli air mineral untuk memenuhi kebutuhan minum, sementara sejumlah musala terpaksa menutup kamar mandi karena persediaan air menipis.
Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat kian sulit. Air yang biasanya mudah diperoleh kini menjadi barang berharga. Sebagian warga terpaksa mengambil air dari tetangga yang masih memiliki persediaan. Warga lainnya mengandalkan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Krisis air ini bukan hanya menyulitkan kebutuhan rumah tangga. Aktivitas ibadah pun ikut terdampak. Sejumlah tempat ibadah dan musala terpaksa menutup kamar mandi karena tidak memiliki cukup air, sehingga jemaah kesulitan ketika hendak berwudu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat, jumlah warga terdampak kekeringan terus bertambah seiring panjangnya musim kemarau. Jika sebelumnya krisis air bersih terjadi di 10 kecamatan dengan 3.330 KK terdampak, data terbaru menunjukkan jumlahnya meningkat menjadi 3.340 KK yang tersebar di 12 kecamatan, 22 desa atau kelurahan, dan 32 dusun.
Kepala BPBD Kabupaten Jember, Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si., mengatakan perluasan wilayah terdampak menunjukkan bahwa ancaman kekeringan semakin meluas. Wilayah yang sebelumnya relatif aman kini mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kalau dua hari lalu kita masih pada posisi 10 kecamatan, per sore kemarin sudah berkembang lagi menjadi 12 kecamatan, 22 desa atau kelurahan dan 32 dusun,” ujar Edy, dikutip Sabtu 24 Oktober 2026
Untuk mengurangi beban masyarakat, BPBD Jember telah menyalurkan sekitar 1,9 juta liter air bersih ke wilayah terdampak. Distribusi dilakukan dengan mengerahkan armada tangki dari sejumlah instansi, termasuk BPBD, PDAM, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, serta Palang Merah Indonesia (PMI).
Awalnya, empat truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter disiapkan untuk mendukung distribusi. Dukungan tambahan dari BPBD Provinsi Jawa Timur dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Timur membuat hampir enam truk tangki setiap hari dioperasikan untuk menjangkau warga yang membutuhkan.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber