El Nino 2026 ancam Banyuwangi. Sebanyak 11 kecamatan masuk zona rawan kekeringan. BPBD minta warga waspada krisis air. (Ilustrasi ChatGPT Image)
BMKG Banyuwangi memprakirakan musim hujan mundur hingga Desember akibat El Nino dan IOD positif. Suhu siang mencapai 32 derajat Celsius; waspada juga! (Ilustrasi ChatGPT Image)

RADAR BANYUWANGI — Warga Banyuwangi masih harus menghadapi cuaca panas lebih lama karena awal musim hujan diprakirakan mundur hingga Desember 2026. Suhu udara siang hari di Bumi Blambangan mencapai 31–32 derajat Celsius, sementara fenomena El Nino dan sejumlah faktor atmosfer global turut memperpanjang periode kering. BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah karena hujan yang datang terlambat bukan berarti risiko cuaca ekstrem ikut menghilang.

Prakirawan BMKG Kelas III Banyuwangi Rahmayani menjelaskan, awal musim hujan di Jawa Timur tidak berlangsung serentak. Sebagian wilayah diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada November, sedangkan wilayah lainnya baru berpotensi mengalaminya pada Desember.

“Jawa Timur memiliki 266 Zona Musim (ZOM), termasuk Banyuwangi. Sekitar 17,31 persen di antaranya baru berpotensi memasuki musim hujan pada Desember,” jelas Rahmayani.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu bersiap menghadapi masa peralihan cuaca yang lebih panjang. Di tengah teriknya matahari, hujan singkat dengan intensitas normal masih mungkin terjadi. Namun, awal musim hujan secara umum belum diprakirakan merata dalam waktu dekat.

Mundurnya musim hujan dari pola klimatologis normal dipengaruhi kombinasi sejumlah fenomena atmosfer dan laut. BMKG Banyuwangi menyebut El Nino, Indian Ocean Dipole (IOD) positif, Madden-Julian Oscillation (MJO), serta keterlambatan penguatan Monsun Asia sebagai faktor yang berkontribusi terhadap berkurangnya pasokan hujan.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dalam kondisi tertentu, fenomena ini dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia sehingga periode kering berlangsung lebih panjang.

Pengaruh tersebut dapat diperkuat oleh IOD positif. Fenomena ini ditandai perbedaan suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang dapat mengubah pola sirkulasi atmosfer dan distribusi pembentukan awan hujan di kawasan sekitarnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *