
Saya adalah mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Saya tertarik menulis tentang ekonomi, perbankan syariah, dan isu sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Pernah membayangkan harus mengantre bensin ketika pekerjaan sudah menunggu? Bagi sebagian orang, keterlambatan mungkin hanya membuat perjalanan menjadi lebih lama. Namun, bagi pengemudi ojek, pedagang yang mengandalkan kendaraan, dan pekerja lapangan, waktu yang terbuang bisa berarti kesempatan mencari penghasilan yang hilang.
Namun, persoalan ini perlu dilihat secara lebih cermat. Apakah antrean panjang selalu berarti persediaan BBM secara keseluruhan tidak mencukupi? Belum tentu. Pemerintah Kabupaten Jember, misalnya, menjelaskan bahwa antrean yang terjadi sebelumnya dipicu oleh keterlambatan pengiriman akibat kemacetan di jalur distribusi, bukan semata-mata karena stok daerah tidak tersedia.
Perbedaan ini penting karena masalah distribusi membutuhkan solusi yang berbeda dari kekurangan persediaan. Menambah pasokan saja belum tentu menyelesaikan persoalan apabila kendaraan pengangkut terlambat tiba atau jalur pengiriman mengalami hambatan. Artinya, BBM bisa saja tersedia di tingkat penyimpanan, tetapi belum sampai ke tempat masyarakat membutuhkannya.
Di Malang, kebutuhan BBM memang cukup besar. Bloomberg Technoz melaporkan konsumsi BBM harian rata-rata mencapai 720 kiloliter pada September 2026. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pertamina mengatur pengiriman dari Surabaya secara bertahap dan meningkatkan frekuensi pengiriman menjadi empat ritase pada akhir pekan.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan distribusi perlu mempertimbangkan kebutuhan setiap daerah, waktu pengiriman, serta kondisi jalur transportasi. Ketika salah satu bagian terganggu, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat yang bergantung pada kelancaran pasokan.
Lalu, bagaimana dengan pelaku usaha kecil? Dampaknya perlu dibahas secara hati-hati. Belum ada data yang cukup dalam laporan tersebut untuk menyimpulkan berapa banyak UMKM yang mengalami penurunan pendapatan akibat antrean BBM di Jawa Timur. Meski demikian, secara ekonomi, waktu tunggu yang bertambah berpotensi mengurangi jam produktif pengemudi dan pedagang yang menggunakan kendaraan untuk bekerja. Jika kondisi berlangsung berulang kali, biaya waktu dan transportasi patut menjadi perhatian.
Menurut saya, inilah alasan mengapa gangguan distribusi BBM tidak boleh dianggap sebagai persoalan antrean semata. Kelancaran pasokan berkaitan dengan kemampuan masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari. Penanganannya pun tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat bersabar.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber