
Sidoarjo, NU Delta | Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Sidoarjo menilai Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Jawa Timur telah menjalankan tugas dan tanggung jawab organisasi dengan baik dalam penyelenggaraan Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil). Penilaian tersebut disampaikan menyikapi dinamika yang berkembang di kalangan kader pascapelaksanaan forum.
PC IPNU Sidoarjo menyampaikan pandangan tersebut setelah mengikuti seluruh rangkaian Rapimwil PW IPNU Jawa Timur yang berlangsung di Gedung PWNU Jawa Timur, Sabtu (31/10/2026) lalu. Keikutsertaan sejak awal hingga akhir forum menjadi dasar bagi PC IPNU Sidoarjo dalam menilai proses dan mekanisme persidangan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PC IPNU Sidoarjo, Muhammad Fachrudin menyampaikan bahwa PW IPNU Jawa Timur telah menjalankan forum sesuai mekanisme organisasi. Menurutnya, Rapimwil pertama berlangsung secara terbuka dan dinamis dengan memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh pimpinan cabang (PC) se-Jawa Timur untuk menyampaikan aspirasi dan pandangan.
“Pada Rapimwil 31 Oktober, PW telah membuka forum secara penuh. Seluruh PC diberi kesempatan menyampaikan pandangan. Perbedaan pendapat terjadi secara terbuka dan dicatat dalam forum,” ujar Fahrudin.
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tersebut menegaskan, tanggung jawab PW IPNU Jawa Timur tidak berhenti setelah pelaksanaan forum pertama. Sebagai tindak lanjut, PW IPNU Jawa Timur kembali menyelenggarakan Rapimwil kedua di Kabupaten Bangkalan. Forum lanjutan tersebut menjadi ruang untuk mengakomodasi aspirasi pimpinan cabang yang dinilai belum terselesaikan dalam pembahasan sebelumnya.
Baginya, langkah tersebut menunjukkan adanya komitmen PW untuk menyelesaikan dinamika organisasi melalui mekanisme yang semestinya, bukan mengambil keputusan secara sepihak.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab PW. PW tidak mengambil keputusan secara sepihak setelah forum pertama. PW justru membuka forum kedua di Bangkalan untuk menuntaskan seluruh aspirasi cabang. Ini menunjukkan PW telah bekerja sesuai tugasnya: mendengar, mencatat, dan memusyawarahkan,” tegasnya.
Atas dasar itu, pihaknya memandang mekanisme dua tahap tersebut sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan yang mengedepankan transparansi, partisipasi, dan musyawarah. Nilai-nilai tersebut sekaligus menjadi bagian penting dari tradisi organisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber