
Banyuwangi (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus mendorong pelestarian batik lokal sekaligus memperkuat industri batik sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif di daerah setempat salah satunya melalui agenda Banyuwangi Batik Festival (BBF).
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi, Minggu, menyampaikan bahwa pelestarian batik harus berjalan beriringan dengan penguatan industrinya.
“Oleh karena itu, kami dari pemkab terus mendorong penggunaan batik lokal di lingkungan sekolah dan instansi, pengenalan batik di jalur pendidikan, serta membuka ruang promosi dan pemasaran bagi para perajin,” katanya.
Ipuk juga menginginkan batik Banyuwangi tidak hanya lestari sebagai identitas budaya, namun lebih dari itu, yakni menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan pembatik dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Ia mengemukakan, agenda BBF yang digelar selama tiga hari, 6-8 November 2026 di Gesibu Blambangan itu bukan sekadar panggung peragaan busana, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan menjaga warisan batik Banyuwangi agar tetap hidup dan berkembang mengikuti zaman.
“Melalui festival ini, kami ingin motif-motif batik Banyuwangi terus dikenal, diwariskan dan dikembangkan. Batik bukan hanya warisan budaya yang harus kita jaga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat,” kata Ipuk.
Festival Banyuwangi Batik 2026 memasuki tahun ke-14, dan pada festival kali ini menampilkan puluhan busana hasil kreativitas 16 pembatik lokal. Beragam rancangan busana modern ditampilkan, sekaligus memperkenalkan kekayaan motif batik Banyuwangi kepada masyarakat luas.
Pada tahun ini, BBF mengambil tema “Sabuk Mangir Latar Ukel” untuk mengangkat kembali kekayaan filosofi lokal. Motif batik ini memadukan garis tegas Sabuk Mangir dengan liukan lembut Latar Ukel yang merepresentasikan keseimbangan nilai kehidupan, perlindungan, dan keanggunan budaya masyarakat Osing.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber